RSS

Pelajar Desa dan Prestasi Gemilang

29 Agu
Aktifitas Sablon Cukil digemari para pelajar

Aktifitas Sablon Cukil digemari para pelajar

Melihat perkembangan film pendek dikalangan pelajar tentunya menjadi angin segar dalam dunia pendidikan. Karena perkembangan tersebut menuju kearah yang positif. Tak sedikit para pelajar yang memanfaatkan film sebagai media untuk menyuarakan isi hati atau sekedar berbagi tentang sesuatu yang ada di sekitar mereka.

Berbicara tentang film pendek dikalangan pelajar, tentu sempat terlintas dalam pikiran kita semua, benarkah ini semua hanya peran serta dari guru di sekolah saja? Atau ada pihak lain diluar sekolah yang membantu para pelajar mewujudkan idenya menjadi sebuah film yang bisa dinikmati.

Di sebuah daerah kecil di Jawa Tengah, ada sebuah komunitas kecil yang sejak tahun 2004 selalu disibukan dengan persoalan multimedia. Komunitas ini selalu ramai dengan kehiadiran para remaja dari berbagai daerah. Ada yang dari Cilacap, Majenang, Kawunganten, Kampung Laut, Karanggayam, Kebumen, Banjarnegara bahkan Pekalongan. Kehadiran pelajar dari berbagai daerah ini beragam tujuan. Ada yang sekedar datang ingin belajar desain grafis, ada yang melaksanakan program Prakerind (Praktek Kerja Industri), adapula yang sekedar sharing dan bertukar pikiran. Komunitas ini terbuka bagi siapapun yang ingin belajar seputar hal multimedia & film. Namanya komunitas Sangkanparan. Beralamat di jl. Progro No. 66 Kelurahan Donan Cilacap.

Insan Indah Pribadi, bersama istri dan anaknya tinggal disebuah rumah kontrakan yang sederhana. Rumah yang ia kontrak di kelurahan Donan Cilacap itu dijadikan Rumah Belajar bagi para pelajar yang ingin membuat karya dalam bidang multimedia. Setiap hari rumah ini selalu ramai dengan kegiatan para pelajar. Kegiatannya beragam. Mulai dari belajar sastra, teater, desain grafis, seni rupa, fotografi, hingga belajar membuat film. Karena suasana yang terbangun di rumah ini selalu asik dan menyenangkan, maka tak sedikit pula para kreator atau seniman yang ingin berbagi keahlian di Sangkanparan. Contohnya seperti yang terjadi baru-baru ini, Rd. Syarief Hidayat, seorang perupa asal Bandung yang berbagi keilmuan tentang melukis dengan tekhnik monoprint, Bambang Suhartoyo, seorang pelukis 3 Dimensi yang berbagi tentang cara melukis 3 Dimensi, Aditya seorang mahasiswa UGM yang berbagi keahlian tekhnik digital drawing, Dan lain sebagainya. Di rumah ini, para pelajar yang tadinya tidak mengerti apa-apa, atau minim dengan pengetahuan menjadi kaya akan referensi-referensi yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Seperti halnya menggambar dengan tekhnik cukil yang disenangi oleh para pelajar. Hingga agenda sablon kaos dengan tekhnik cukil sering kali dilaksanakan untuk mengisi waktu luang para pelajar yang tinggal di rumah tersebut.

Muslihan Menerima Piala Dewantara dalam Ajang AFI 2015

Muslihan Menerima Piala Dewantara dalam Ajang AFI 2015

Kembali menyoal film. Dari tahun ke tahun, komunitas Sangkanparan ini melahirkan sineas-sineas dari kalangan pelajar. Mereka membuat karya film yang mengangkat realita yang terjadi di sekitar mereka. Dengan pendampingan yang dilakukan oleh para mentor dari sangkanparan, para pelajar berhasil menciptakan karya yang rapi dan layak untuk dipertontonkan kepada masyarakat umum. Dan tak sedikit dari mereka yang mendapat penghargaan atas karya yang mereka buat. Dari tahun ke tahun, pelajar didikan Sangkanparan ini tak pernah absen mengisi ruang-ruang festival yang ada di Tanah Air. Seperti film berjudul KAMPUNG TUDUNG, karya Yuni Etifah pelajar SMKN1 Kebumen. Mengangkat persoalan tentang pengrajin tudung di desa Grujugan Kebumen. Film ini berhasil menyabet penghargaan sebagai FILM DOKUMENTER TERBAIK Kategori Pelajar dalam ajang Festival Film Dokumenter (FFD) di Jogja pada tahun 2013. Pada tahun 2014, pelajar didikan Sangkanparan sempat memborong penghargaan dalam Festival Film Dokumenter Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Film berjudul BESALEN karya Garnida Asri dari SMK Dr. Soetomo Cilacap yang bercerita tentang pande besi, mendapat JUARA 1, Lalu film GULA JAWA KALIPOH karya Fita Fatimatul Kirom SMKN1 Kebumen, bercerita tentang petani gula kelapa di wilayah Kalipoh Kebumen berhasil mendapat Juara 2. Kemudian Film berjudul TETESAN RUPIAH karya Kusmawanti SMK Muhammadiyah Majenang juga berhasil mendapat Juara harapan ke 2 dalam ajang tersebut. Tak berenti sampai disini, di tahun –tahun berikutnya prestasi membanggakan diraih oleh Muslihan pelajar SMKN1 Kebumen, dalam filmnya berjudul JENITRI. Film yang menceritakan kesuksesan petani Jenitri di Wilayah Kaligowong ini mendapat berbagai penghargaan. Juara 2 dalam ajang Documentary Days FEUI Jakarta tahun 2014, serta dalam ajang YOUTH SINEAS AWARD tahun 2015 di Bali film ini berhasil menyabet penghargaan sebagai Film Dokumenter Terbaik, Editor terbaik, Sutradara Terbaik serta Sinematografi Terbaik. Kemudian Film Jenitri juga mendapat penghargaan Film Dokumenter Terbaik kategori Pelajar dalam ajang Apresiasi Film Indonesia yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI di Jogja pada tahun 2015.

BW Purbanegara memberikan Piala kepada Nur, dalam ajang FFD 2015

BW Purbanegara memberikan Piala kepada Nur, dalam ajang FFD 2015

Tak hanya itu, Nur Hidayatul Fitria, seorang pelajar asal desa Cilongkrang yang bersekolah di SMK Muhammadiyah Majenang mengangkat persoalan sosial yang terjadi didesanya. Persoalan itu ia kemas dalam film dokumenter berjudul KORBAN BENDUNG MANGANTI. Film ini juga mendapat apresiasi yang luar biasa, serta berhasil menyabet beberapa penghargaan, seperti Film Terfavorit dalam ajang Youth Sineas Award di Bali tahun 2015, Film Dokumenter Terbaik dalam ajang Festival Film Dokumenter (FFD) Jogja 2015, Film Dokumenter Terbaik dalam ajang Festival Film Purbalingga 2015, dan Dokumenter Terbaik dalam ajang Festival Film Esemka 2015 di Cilacap. Dan masihh banyak lagi film-film karya pelajar yang mendapat penghargaan dalam ajang Festival yang diselenggarakan di Indonesia. Seperti halnya pelajar Kampung Laut yang memfilmkan tentang pengrajin Welit yang sederhana, serta pelajar Kawungantten yang memfilmkan tentang petani Gula Semut.

Melalui prestasi serta penghargaan-penghargaan yang diraih oleh para pelajar tersebut, tak sedikit yang akhirnya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Anak didik Sangkanparan yang akhirnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi antara lain Lia Budi Astuti, yang mendapat beasiswa kuliah di UNS Solo, Ira Cucu Cidar yang mendappat beasiswa di UNNES Semarang, Fita Fatimatul Kirom, yang saat ini berkuliah di IAINU Kebumen, serta Nur Hidayatul Fitria yang dibiayai oleh WALHI untuk berkuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) tahun ini.

Kegiatan para pelajar di Komunitas Sangkanparan diadakan secara sederhana. Dengan memanfaatkan teras rumah dan ruang-ruang yang ada disekitarnya, memakai peralatan seadanya asal masih bisa dipakai untuk berkarya. Para punggawa dari Sangkanparan selalu setia mendampingi para pelajar berkarya. Baik itu berkarya dirumah maupun saat memproduksi film di luar kota.

Para pelajar yang belajar di Sangkanparan sama sekali tidak dipungut biaya, alias gratis. Mereka tinggal di rumah yang sederhana, bersama. Makan dan minum bersama-sama, berkegiatan bersama dan berkarya bersama. Kebersamaan inilah yang seringkali dirindukan oleh para pelajar didikan Sangkanparan.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 29, 2016 in Utama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: