RSS

Pelajar Majenang filmkan TIKAR PANDAN

23 Jan
foto

Suasana Produksi Film TIKAR PANDAN

Sebagian besar dari kita semua sudah pernah menjumpai Tikar Pandan. Tikar pandan ternyata tidak hanya digunakan sebagai alas saja, melainkan digunakan untuk berbagai hal, salah satunya digunakan untuk syarat sebuah ritual pernikahan, ada juga yang menggunakan tikar pandan sebagai pengobatan tradisional, bahkan ada yang menggunakan tikar pandan sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan dan lain-lain.

Nah, tentunya munculnya tikar pandan tak lepas dari para pengrajin yang sangat telaten menganyam helai demi helai daun pandan yang kemudian berwujud menjadi lembaran besar yang siap pakai. Di sebuah desa Pesahangan, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap terdapat sebuah desa yang para penduduknya mayoritas berprofesi sebagai pengrajin Tikar Pandan. Kiki Ismawati salah satu pelajar SMK Muhammadiyah Majenang mencoba mengangkat sisi kehidupan para pengrajin Tikar Pandan melalui film dokumenternya. Film documenter ini tak sekedar merekam aktifitas para pengrajin tikar pandan, namun juga proses pengolahan daun pandan dari pemetikan hingga menjadi tikar yang siap pakai. Melalui film ini Kiki berharap, masyarakat luas bisa tau proses pembuatan tikar yang ternyata tidak sederhana dan membutuhkan kesabaran yang super. “Bikin Tikar Pandan mah harus sabar, prosesnya ngga sebentar, makanya kita harus bisa menghargai para pembuatnya.” Ungkap gadis cantik dengan logat sunda yang khas.

Pembuatan film ini memakan waktu 2 hari. Di sebuah daerah perbukitan Pesahangan, Cimanggu, sedikitnya 12 anak diberangkatkan untuk membantu proses pembuatan film ini. Kiki sendiri sebagai sutradara dalam film ini. Peralatan dan transportasi dibantu dari sekolahan, sementara Pendampingan produksi tetap di lakukan oleh Komunitas Sangkanparan. Proses pembuatan film ini adalah salah satu perwujudan karya dari program Prakerin siswa SMK Muhammadiyah majenang di Sangkanparan. Teguh Rusmadi langsung terjun mendampingi proses produksi untuk urusan tekhnik. “Saya hanya mendampingi para pelajar, namun mereka pegang kamera sendiri. Mereka praktek sendiri, agar mereka paham dan bisa belajar langsung dilapangan” ungkap Teguh yang saat itu mengajak Tofik Suseno ikut serta dalam produksi Film tersebut.

Memang dalam pembuatan film itu, Kiki mengajak Tofik Suseno salah satu seniman music untuk ikut serta merasakan suasana yang ada dalam film tersebut. Tujuannya adalah agar bisa tercipta illustrasi music yang tepat untuk film yang digarap. “Film ini kental dengan budaya Sunda, maka mungkin lustrasi yang tepat untuk film ini adalah musik2 bernuansa sunda seperti suling sunda atau kecapi.” Ungkap Tofik sembari memandangi indahnya alam di desa Pesahangan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2016 in BERITA TERBARU

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: