RSS

Dari Desa Wujudkan Impian

03 Agu
Peserta prakerin mendengarkan cerita Misyatun dengan seksama

Peserta prakerin mendengarkan cerita Misyatun dengan seksama

Tuhan benar-benar menganugerahkan alam yang indah kepada manusia. Angin berhembus dingin di pelataran TBM Sangkanparan yang tak begitu ramai sore itu. Suasana menjadi hangat ketika alumnus SMP Negeri Satu Atap Karangmoncol, Purbalingga datang ke TBM Sangkanparan untuk berbagi pengalaman hidupnya, Misyatun demikianlah namanya. Selepas Ashar sekitar pukul 16.00 WIB para peserta prakerin yang berasal dari SMK Negeri 1 Kebumen dan SMK Muhammadiyah Majenang dengan seksama mendengarkan kisah hidup yang diceritakan oleh Misyatun, gadis cantik dari kampung yang sejak SMP sudah membuat film.

“Bagi saya film itu sudah mendarah daging,” ungkapnya dengan penuh ekspresi di hadapan para peserta prakerin. Di kesempatan kali ini, Misyatun yang masih menjadi mahasiswi ATVI (Akademi Televisi Indonesia) menceritakan bahwa dirinya dulu pernah menjadi pembantu rumah tangga di Bandung, di Jakarta, bahkan sampai ke Papua. Walaupun saat itu dirinya jauh dari kampung halamannya, namun ia punya keinginan untuk pulang demi melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Bagi Misyatun, jika seorang ingin dihargai, maka minimal seseorang tersebut harus berpendidikan dan minimal punya karya. “Serius, orang yang berpendidikan itu lebih dihormati dan dihargai oleh orang lain. Saat itu aku masuk SMP ketika umur 14 tahun, banyaklah yang bilang sudah tua kok masih sekolah, mending nikah aja. Tapi buatku umur bukan masalah dalam pendidikan,” tambahnya.

Sharing sore itu memberikan pencerahan bagi para pelajar yang notabene masih duduk dibangku SMK Misyatun banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya, hingga pengalaman baru yang didapat dibangku perkuliahan. Banyak yang mengetahui Misyatun memang berbakat di dunia perfilman, tetapi mungkin tidak banyak yang mengetahui Misyatun mendapatkan beasiswa untuk masuk SMK mengambil jurusan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan perfilman, jurusan yang ia ambil dahulu adalah Pemasaran. “Jurusanku pemasaran, dulu belum ada jurusan yang mengenal film, tapi karena aku memang benar-benar suka film ya kenapa ngga dilanjutkan, kan aku memang suka,” ungkapnya lagi. Misyatun juga mengungkapkan pengalamannya ketika prakerin yang hanya menimbang gula di swalayan dan harus membayar prakerin sekitar 1,5 juta rupiah. Sharing cerita dari Misyatun ini sekaligus memberikan pencerahan kepada para pelajar Multimedia, bahwa sebenarnya pekerjaan Multimedia itu adalah “kerja-kerja kreatif” bukan berpatokan pada kerja-kerja pabrikan yang harus berdiri 8 jam mengemas barang di PT atau bahkan di perusahaan besar yang ada di Luar Negeri. Mengingat banyak sekali sekolah yang kini bekerjasama dengan PJTKI dan mengiming-imingi pelajar yang lulus SMK agar bekerja di Luar Negeri seperti Malaysia, Singapura dan lain sebagainya.

Mahasiswa yang sudah menghasilkan sekitar 6 karya film ketika kuliah ini juga menuturkan bahwa semua tidak akan tercapai tanpa ada restu dari orang tua terutama ibu. Ketika masih duduk di bangku SMK dirinya juga pernah ikut festival film di Solo dan mendapatkan juara serta diberi hadiah berupa keris namun sekolah tidak menerima keris tersebut. Justru pihak sekolah malah bertanya ‘berapa uang yang didapat?’, tentu suatu hal yang sangat tidak diharapkan di dunia pendidikan.

Mendengar cerita dari Misyatun ada seorang yang kemudian menyadari pentingnya pendidikan. “Bagi saya pendidikan itu penting. Karena dengan pendidikan saya bisa membahagiakan keluarga. Buat ke depannya saya ingin kuliah dan mulai sekarang saya akan terus berusaha, belajar, serta berdoa agar keinginan saya tercapai,” jelas Linda Agustin salah satu peserta prakerin yang berasal dari SMK Negeri 1 Kebumen.

Berbeda dengan Latifah siswi SMK Negeri 1 Kebumen ketika mengungkapkan tentang pentingnya pendidikan baginya, “ketika udah ada niat buat bener-bener sekolah, sesulit apapun pasti akan dikasih jalan. Intinya niatnya dulu,” ungkap Latifah.

Selain sudah menghasilkan sekitar 6 karya film ketika menjadi mahasiswa, Misyatun bersama kawan-kawannya juga membentuk UKM (Unit Kerja Mahasiswa) di kampusnya. “Ngga harus yang bisa membuat film yang ikut jadi anggota UKM, yang penting ada minat dulu,” kata Misyatun sore itu.

Obrolan sore itu terasa begitu singkat, tatkala matahari mulai terlihat terbenam di barat. “Pokoke pendidikan itu penting. Aja nganti nikah enom. Bakal ngajog,” tutup Misyatun dengan bahasa ngapaknya. (Pokoknya pendidikan itu penting. Jangan sampai nikah muda. Akan menyesal).

Dengan berbagai pengalaman Misyatun yang hanya anak kampung namun bisa membuktikan kalau terlahir sebagai orang kecil itu bukan alasan untuk kita tidak berkarya diharapkan mampu menjadi motivasi bagi generasi muda sekarang untuk tetap berkarya tanpa harus mempedulikan keterbatasan yang dimiliki. Obrolan dan sharing sore itu usai, dan Misyatun bersama mas Nugroho Pandhu bergegas ke Dermaga Sleko Cilacap untuk hunting sunset yang indah. Terimakasih mbak Misyatun sudah mau berbagi bersama kami di Sangkanparan. Salam Rindu dari kami.

(Ditulis oleh : Suningsih Ell)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 3, 2015 in BERITA TERBARU, INFORMASI

 

One response to “Dari Desa Wujudkan Impian

  1. Ario M Sano

    Agustus 3, 2015 at 9:34 pm

    maturnuwun selalu berbagi dan menginspirasi

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: