RSS

Berimajinasi dalam Teater

29 Jul
Peserta prakerin sedang berakting menunggu seseorang

Salah satu peserta prakerin sedang berakting menunggu seseorang

Minggu, 26 Juli 2015, para peserta prakerin di TBM Sangkanparan dibimbing oleh Dewi Kusumawati atau lebih akrab disapa Enyak, kali ini membahas dan mempelajari tentang Teater. Beliau yang sebelumnya pernah memiliki banyak pengalaman di bidang ini berbagi cerita kepada para peserta prakerin yang berasal dari SMKN 1 Kebumen dan SMK Muhammadiyah Majenang. Walaupun dengan peserta yang lebih sedikit dari biasanya, hal ini tidak mengurangi rasa semangat mereka untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Untuk mendalami teater harus pandai-pandai dalam mengimajinasikan segala sesuatu. Selain itu juga membutuhkan tiga unsur yang kuat yaitu antara pikiran, perasaan, dan gerak tubuh agar bisa menghayati peran. Jika salah satunya tidak terpenuhi maka tidak akan jadi. Misalnya saja apabila dalam pementasan, tiba-tiba kita lupa beberapa kata yang harus diucapkan maka kita harus fast thinking (berpikir cepat) bagaimana akan menyikapinya.

Mereka sangat antusias dalam menyimak. Terbukti saat mereka dengan semangat menyutujui ketika ditawari untuk mengimajinasikan apapun yang ada disekitar mereka dan kemudian diekspresikan didepan teman-teman lain. Kemudian peserta prakerin diberikan clue untuk berekspresi saat menunggu seseorang berjam-jam dengan menggunakan kursi sebagai properti yang diimajinasikan. Walaupun pada awalnya mereka merasa malu dan ragu, pada akhirnya mereka berani juga untuk mencoba.

Peserta prakerin sedang membaca naskah

Peserta prakerin sedang membaca naskah

Latifah merupakan salah satu peserta prakerin yang berasal dari SMKN 1 Kebumen mengungkapkan, “awalnya saya sangat gugup dan malu, takut nanti mbok akting saya jelek. Tapi saya tetap berusaha dengan membayangkan tentang kejadian hal seperti ini yang pernah saya alami”.

Setelah melihat penampilan mereka Dewi menuturkan evaluasinya, “sebenarnya rasa kalian udah dapet tapi kepotong oleh pikiran kalian yang mengatakan “ah malu ah” , “mbok jelek”, “ntar diketawain lagi” dan lain sebagainya. Maka dari itu kita harus membuang jauh-jauh rasa malu itu untuk bisa menghayati peran”. Beliau juga mencontohkan bagaimana kursi itu bisa diimajinasikan menjadi banyak hal. Dan menjadikan kursi itu benar-benar ikut terlibat tidak hanya sebagai pajangan saja.

Mereka juga diberikan kumpulan naskah drama untuk dibaca dan dipraktikkan. Bukan hanya sekedar membaca biasa atau datar, tetapi dihayati bagaimana caranya agar bacaan itu benar-benar hidup, yaitu dengan pelafalan yang baik.

Hingga waktu menjelang sore, mereka masih asik dengan lembaran-lembaran naskah tersebut. Seringkali disela-sela kegiatan, mereka saling megeluarkan candaan yang berkaitan dengan naskah agar tidak bosan.

(ditulis oleh : Siti Muldiatun Nasikhah)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 29, 2015 in BERITA TERBARU, INFORMASI

 

One response to “Berimajinasi dalam Teater

  1. Ario M Sano

    Agustus 2, 2015 at 8:36 pm

    sip , ikatlah ilmu dengan menulis dan berbagi dengan jepretan karya sendiri tidak pakai malu.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: