RSS

Novi, Gadis Belia Penari Sintren

14 Okt
Novi dan Sella saat diwawancarai siswa SMK Muhammadiyah Majenang

Novi dan Sella saat diwawancarai siswa SMK Muhammadiyah Majenang

Jumat 10 Oktober 2014, pagi-pagi benar para siswa SMK Muhammadiyah Majenang sudah siap di Kampus 3 desa Bantar Kecamatan Wanareja menanti mobil dari sekolah yang akan menghantar mereka ke sebuah desa di pelosok Tasikmalaya. Mereka adalah Ita Hartati, Nur Fitriya, Siti Nasiroh dan Kris.

Perjalanan yang berliku nan panjang ini dilakukan untuk memvisualkan ide dan gagasan Ita Hartati. Yaitu memfilmkan sebuah kisah unik di desa Ciheras, Cipatujah Tasik Malaya. Novi, seorang gadis belia yang lulus dari bangku SD terpaksa tidak melanjutkan sekolah ke bangku SMP dikarenakan kondisi ekonomi yang kurang mampu. Hal ini tentu saja membuat Novi menjadi malas untuk melanjutkan sekolahnya. Sementara, Sella teman sebayanya malah sudah pernah mengandung di usia dini. Novi kini tinggal bersama kakek dan neneknya, yang tak lain adalah pelaku kebudayaan Kuda Kepang dan Sintren. Ayahnya sejak beberapa tahun lalu meninggal. Ibunya kini telah menikah lagi dan tinggal di Jogjakarta. Novi tidak mau ikut ibunya dikarenakan ia belum siap memiliki bapak tiri. Ia lebih memilih hidup bersama kakek neneknya meski hanya tinggal di desa kecil di Cipatujah. “Aku pengin mbales jasa embah, dadine aku milu embah bae” (aku ingin membalas jasa baik kakek nenek, jadinya aku ikut kakek nenek) ungkap gadis belia yang memilih jalan hidup sebagai penari Sintren ini.

Perjalanan yang melelahkan itupun usai, tatkala kita sampai di sebuah masjid di wilayah pasar Ciheras. Sesaat para kru menunaikan ibadah sholat jumat dan dilanjutkan makan siang.

Sepasang Sintren kembar beserta Bodoran sudah siap menari

Sepasang Sintren kembar beserta Bodoran sudah siap menari

Pada hari Sabtu usai subuh, para kru yang terdiri dari 4 siswa SMK Muhammadiyah Majenang ditambah 2 pendamping Insan Indah Pribadi bersama Teguh Rusmadi telah siap berkeliling desa untuk merekam aktivitas di desa Ciheras Cipatujah. Ya, beruntung pada produksi kali ini Teguh Rusmadi bersedia ikut serta untuk mendampingi sekaligus sebagai mentor pengambilan gambar bagi sang cameramen. Insan Indah Pribadi pengelola TBM Sangkanparan mengakui, dirinya tidak begitu mahir mengoperasikan kamera dan mengambil gambar. “Kalo urusan pengambilan gambar Teguhlah yang lebih mahir, sementara saya hanya mendampingi proses penyutradaraan serta editing ketika film sampai di meja editing” ujar pria bertubuh tambun ini. Ini adalah rangkaian GFRB (Gerakan Fasilitas Remaja Berkarya) yang digagas oleh TBM (Taman BelajarMultimedia) Sangkanparan. Sebagai bentuk support dan kepedulian terhadap dunia pendidikan di bidang Multimedia.

Tak hanya itu, kehadiran kami disambut hangat oleh warga Desa Ciheras. Mereka dengan sukacita turut membantu mensetting artistic yang dipersiapkan sejak siang hari, untuk pertunjukan Sintren yang akan digelar malam harinya.

Novi dan Sella menjadi penari Sintren baru satu tahun. Namun dirinya merasa, bahwa kesenian yang adiluhung ini harus tetap dilestarikan, seperti ungkapan Pak Menor kakeknya yang juga sekaligus pengelola kesenian Kuda Kepang dan Sintren di desa Ciheras ini. Pak menor juga hingga kini selalu menjaga agar kesenian di desa Ciheras ini tetap lestari.

Malam hari pertunjukan Sintren siap digelar. Kemenyan dan Air beserta kembang sudah siap dijadikan sajen dan diletakkan disamping 2 kurungan besar. Dewi Purbasari dan Purbawangi, yang merasuk ke tubuh Sella dan Novi telah siap untuk menari mala mini. Sella dan Novi diikat dan dimasukkan kedalam kurungan. Tembang Turun SIntren didendangkan untuk menambah aura mistik disekitar tempat itu. Tiba saatnya nanti kurungan akan bergoncang tanda Sella dan Novi telah siap untuk menari dengan busana lengkap beserta aksesoris tari lainnya. Banyak pemuda dan warga sekitar turut bergembira dan member sawer. Tak hanya itu, pertunjukan Sintren malam itu, mengundang salah satu mahasiswi yang saat itu tengah menghadapi masa skripsi. Mahasiswa asal Tasik itu memanfaatkan moment istimewa ini untuk melakukan riset guna skripsi yang saat ini sedang ia garap.

Demikian catatan Sangkanparan atas produksi film Dokumenter garapan Ita Hartati, siswi cantik kelahiran Cipatujah yang saat ini sekolah di SMK Muhammadiyah Majenang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 14, 2014 in BERITA TERBARU, Utama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: