RSS

Belajar membuat Dokumenter Observasional

09 Sep
Muslihan sedang merekam aktivitas pembuat batu bata merah

Muslihan sedang merekam aktivitas pembuat batu bata merah

Sabtu, 23 Agustus 2014, tim MBPro yang berasal dari campuran siswa SMKN1 Kebumen, SMKMuhammadiyah Majenang dan SMKN1 Cilacap ini sudah berada di sebuah desa yang letaknya agak sedikit jauh dari biasanya, yaitu Sadang Kulon. Di sinilah para tim MBpro akan mengabadikan aktifitas para pembuat batu batu bata merah.

Aktifitas dimulai di keesokan harinya. Ketika hari masih gelap para tim yang berusaha merekam aktifias pagi harus bergegas menuju atas bukit kerumah salah satu pengrajin batu bata merah. Tak seperti biasanya memang. Dalam penggarapan film documenter kali ini tidak menggunakan wawancara kepada para narasumber, melainkan membiarkan aktifitas itu berjalan apa adanya. Dan sang kameramen hanya bertugas merekam aktifitas yang terjadi selama berhari-hari.

Film documenter berjenis Observasional ini juga baru pertama kali dibuat oleh para siswa SMK N1 Kebumen. Ya Ardiawati yang berperan sebagai sutradara dalam film ini menginginkan aktifitas para pembuat batu bata merah ini direkam apa adanya tanpa harus ada wawancara secara khusus. Ardiawati belajar membuat documenter observasional karena dirinya tertarik dari cara bertutur dalam film documenter observasional yang lain dari pada yang lain.

Tak semudah membuat documenter seperti yang sebelumnya dilakukan teman-teman, documenter observasional ini lebih sulit mengungkapkan permasalahan yang ada. Kadang jika tidak dishooting, objek seringkali banyak bercerita tentang kehidupannya atau bahkan aktifitasnya terlihat sangat hidup. Namun ketika seseorang mengetahui dirinya sedang di shooting, semua menjadi sepi tanpa suara. Kesulitan semacam ini yang menjadikan film ini nantinya tidak ada cerita. Maka sang cameramen harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa merekam aktifitas tanpa diketahui oleh seseorang. Hingga pada akhirnya nanti orang-orang disekitarnya menjadi acuh terhadap kamera yang ada disekitarnya, barulah suasana terbentuk.

“Ternyata bikin film documenter Observasional nggak semudah yang saya pikirkan, banyak hal yang meleset, dari treatment yang sebelumnya sudah saya buat” ungkap Ardiawati gadis cantik bertubuh langsing yang banyak disukai oleh cowok-cowok didesanya itu.

Ardiawati ingin merekam aktifitas Pembuat Batu Bata Merah yang tak lain adalah keluarganya sendiri. Ya Ayahnya sebagai pengusaha pembuat batu bata merah sudah lama melakukan aktifitas tersebut. Tak hanya sebagai pembuat batu bata merah, ayahnya pun kadang bekerja sebagai penebang kayu dan kemudian di jual ke beberapa tempat.

Di desa ini, tim MBpro butuh waktu selama 2 hari untuk merekam aktifitas yang dilakukan para pembuat batu bata merah. Dan film ini adalah film yang ke 8, sekaligus produksi paling akhir pada rangkaian Prakerin SMKN1 Kebumen di TBM Sangkanparan.

Insan Indah Pribadi selaku pendamping produksi berharap, fasilitas yang diberikan Sangkanparan selama produksi bisa benar-benar dimanfaatkan untuk menghasilkan karya yang maksimal. Tak hanya sebagai bahan praktek semata, namun menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat luas.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 9, 2014 in BERITA TERBARU, Utama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: