RSS

Nonton Film sebagai Referensi bersama

16 Jul
Para siswa di Sangkanparan sedang menonton film

Para siswa di Sangkanparan sedang menonton film

Meresum film adalah salah satu program yang wajib dilakukan di Sangkanparan. Meresum adalah sebuah proses menuliskan kembali apa yang baru saja di lihat. Istilah lainnya yaitu membongkar film, dari berbagai sudut pandang. Dari ceritanya, cara bertutur filmnya, gambarnya, hingga pada akhirnya ditemukan kelebihan serta kekurangan dari film yang ditonton.

Meresum film adalah salah satu upaya memberikan referensi kepada siswa untuk kemudian di kaji bersama. Mereka diajak memahami serta berpikir bagaimana menciptakan gambar yang tertata dan rapi untuk sebuah film, mereka diajak untuk berpikir tentang cara bertutur yang baik dalam sebuah film, agar film bisa dipahami oleh penonton.

Sebelum para siswa ini praktek membuat film, wajib hukumnya mereka mendapatkan referensi tontonan film yang beragam jenis. Melalui referensi tersebut, diharapkan mampu lahir ide-ide baru yang segar untuk dikemas menjadi tontonan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Banyak film yang di Bongkar di TBM Sangkanparan, mulai dari film dokumenter, film fiksi, animasi, dll. Film tersebut juga beragam jenis. Seperti halnya Dokumenter. Ada film dokumenter yang bersifat Ekspositoris, Observatoriss, dll. Film fiksi, ada berbagai genre, salah satunya adalah film musikal.

Pada 10 Juli 2014, para siswa di TBM Sangkanparan berkesempatan membongkar film karya G Lingga Permadie. Film berjudul Rena Assih yang dikemas menarik dengan drama musikal ini mendapatkan respon yang menarik dari para siswa di TBM Sangkanparan. Siti Nassiroh, salah satu siswi SMK Muhammadiyah ini sempat terkaget melihat persoalan yang dibawakan dalam film tersebut, hampir sama dengan kehidupan dirinya. “Saya pernah berhenti sekolah setahun, karena faktor ekonomi. Jadi saya bisa merasakan betul kondisi yang terjadi dalam film itu” ungkap gadis manis berkerudung yang akrab dipanggil Siti.

Ardia mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya

Ardia dkk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya

Selain itu, film ini juga menggunakan bahasa daerah. Dimana saat ini banyak sekali remaja masa kini yang enggan atau malu menggunakan bahasa daerah sendiri alias bahasa ibu. Namun film ini justru mengemas kelokalan menjadi sesuatu yang sangat indah. Selain bahasanya yang menggunakan bahasa daerah, setting dan lokasinyapun menggunakan setting di desa. Dan yang tak kalah menarik, film ini menggunakan lagu-lagu berbahasa daerah. Hanan Husnia, mengamati dialog dalam film tersebut yang dikemas menjadi lagu yang indah. “Di film ini, kita bisa melihat perpaduan musik tradisional dengan modern. Seperti tembang macapat yang diMix dengan irama Hip-hop.” Kata gadis berbadan subur yang sekolah di SMK N1 Kebumen ini.

Film Rena Asih ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai Film Fiksi Terbaik Festival Film Malang 2014. Film yang mendapat penghargaan dalam ajang festival tersebut saat ini tengah dikaji dan dibongkar di Sangkanparan. Beberapa catatan kecil juga dimunculkan oleh para siswa yang mengkritissi film tersebut. Seperti halnya penokohan dalam film tersebut, perbedaan kultur / budaya masyarakatnya. Dll.

Ardiawati menjelaskan, didesanya kedekatan antar warga terasa sangat hangat. Biarpun tidak memiliki hubungan darah, namun kehidupan didesa sungguh terasa seperti saudara. Tidak bisa makan itu tidak menjadi persoalan dalam kehidupan di desa. Karena dirinya kerap mampir kerumah tetangganya bahkan makan bersama. “Apalagi dalam film itu, diperlihatkan suasana desa yang indah, subur dan asri. Jadi persoalan beras tak jadi masalah didesa tersebut.” Ini menjadikan catatan bagi Ardia, bahwa film ini bisa juga dikemas dengan setting yang bukan didesa, namun justru di perkotaan. Melihat kondisi ekonomi yang ditampilkan serta persoalan dengan tetangganya yang sedikit angkuh.

Selain itu, biasanya orang yang hidup serba kecukupan itu tidak berbadan subur seperti yang ada dalam film Rena Asih. “Di Film ini masih terlihat tokoh utama yang diceritakan harus berparas ganteng/cantik. Namun bagi saya tokoh yang lebih cocok sebenarnya berbadan kurus.” Ungkap gadis cantik yang berasal dari SMK N1 Kebumen.

Film yang banyak memberikan edukasi bagi penonton ini memberikan referensi baru bagi para siswa di TBM Sangkanparan. Mereka jadi menemukan sesuatu yang baru yang jarang sekali mereka temui di tahun-tahun mereka hidup saat ini. Semoga kedepannya mereka bisa menciptakan ide yang baru dan lebih segar lagi.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 16, 2014 in BERITA TERBARU, Utama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: