RSS

Tetes Karet dan Keping Rupiah

03 Nov
siswa SMK Muhamadiyah Majenang produksi film Dokumenter

siswa SMK Muhamadiyah Majenang produksi film Dokumenter

Pagi itu masih gelap, Pak Daryanto mempersiapkan alat kerjanya dan bergegas menuju hutan. Udara pagi itu masih terasa sangat dingin. Dengan gagah perkasa bapak beranak 4 ini melangkahkan kakinya menuju hutan karet yang tak jauh dari rumahnya. Berjalan tanpa alas kaki, menaiki dan menuruni bukit, disapa tetes embun yang terjatuh dari dedaunan, maka sampailah Pak Daryanto di sebuah lahan luas yang dipenuhi ratusan pohon karet. Ia menancapkan pisau di pohon karet tersebut dana mulailah menyadap satu persatu dari pohon tersebut. Geraknya begitu cepat, seolah berkejaran dengan mentari yang sesaat lagi akan menampakkan sinarnya.

Yah aktifitas rutin inilah yang hendak direkam dalam sebuah film berjudul “Tetes Rupiah” oleh Kusmawanti, siswi SMK Muhamadiyah Majenang yang saat ini tengah menjalani masa Prakerin di TBM Sangkanparan 2013. Hari Rabu, 30 Oktober 2013 seharian penuh Kusmawanti bersama 5 orang temannya (Ana, Thomy, Rizky, Shyfa, dan Adam) memproduksi film dokumenter yang mengangkat tentang kehidupan petani karet ini.

Ini adalah kali pertama mereka membuat film. Setelah sebelumnya mereka banyak mempelajari cara membuat skenario / treatment, dan belajar untuk membedahnya menjadi breakdown serta menyusun jadwal shooting hingga mempersiapkan segala peralatan yang digunakan ketika shooting berlangsung.

Teguh Rusmadi dan Insan Indah Pribadi yang saat itu mendampingi produksi Film Dokumenter di dusun Sokawera, Desa Bantar Kecamatan Wanareja ini membebaskan mereka untuk melakukan eksplorasi. Baik itu dari proses pengambilan gambarnya, cara menyutradarai, atau mempersiapkan segala hal. “Ya, mereka pegang kamera sendiri, biar tau cara mengoperasikan kamera”. ungkap Teguh Rusmadi salah satu pendamping dalam produksi Dokumenter karya Kusmawanti ini.

Sementara itu, Kusmawanti merasa sangat senang ide ceritanya bisa diangkat menjadi film. Keseharian yang dilakukan oleh ayahnya yang seorang petani karet ini ia sampaikan secara rinci. Dari proses penyadapan karet, pengolahan, penggilingan hingga proses penjualan karet tersebut. Terlihat sederhana mungkin, namun dibalik semua ini Kusumawanti ingin menyampaikan banyak hal dalam film terbarunya itu. Salah satunya adalah alternatif bertani yang menghasilkan nilai yang tinggi dibandingkan dengan yang lain. Dalam sehari ayahnya bisa mendapatkan 4 hingga 5 Kilogram karet yang siap untuk dijual. Harga per kilonya rata-rata mencapai Rp. 23.000,-. Bisa dibayangkan pendapatan dari bertani karet rata-rata mencapai Rp. 3.000.000,- per bulannya.

Film ini merupakan film pertama yang digarap oleh Kusmawanti bersama teman-teman barunya. Ya dikatakan baru karena sebelumnya ia tidak pernah kenal dengan ke 5 temannya itu. Hal itu dikarenakan Kusmawanti tinggal di Kampus 3 SMK Muhammadiyah (cabang) yang terletak di desa Bantar, Wanareja. Sementara ke 5 temannya itu bersekolah di sekolah utama yang terletak di Cilopadang Majenang.

“Saya berharap film ini bisa disaksikan oleh teman-teman yang lain dan memotifasi teman yang lain untuk mengangkat daerahnya masing-masing.” Ungkap gadis berparas cantik yang tinggal diatas bukit dusun Sokawera, Desa Bantar, Kecamatan Wanareja ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 3, 2013 in Utama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: