RSS

Libatkan Seniman Cilacap dalam Film Dokumenter

11 Sep
1111

recording dibelakang rumah mas Pratik

Produksi film dokumenter karya siswa-siswi SMKN1 Kebumen yang tengah menjalani masa Prakerin di TBM Sangkanparan Cilacap, kini telah memasuki tahap editing. Ada 5 film yang ditargetkan selesai editing pada akhir bulan September 2013 ini, diantaranya adalah film berjudul Kampung Tudung karya Yuni Etifah, yang menceritakan eksotisme desa Grujugan dengan aktifitas masyarakatnya yang mayoritas adalah pengrajin tudung. Lalu ada film Lurah Pesulap karya Ahmad Wahidin, yang berusaha merekam kepiawaian pak Lurah dalam bermain sulap. Gula Jawa Kalipoh, garapan Fita Fatimatul Kirom, Peternak Ayam garapan Ummi Laelatun Nafi’ah serta Tas Rully garapan Lia Budi Cahyani.

Insan Indah Pribadi selaku pengelola komunitas Sangkanparan menjelaskan, produksi ke 5 film dokumenter itu dilakukan oleh para siswa sendiri.  “ Mereka langsung praktek, mulai dari menulis skenario, pegang kamera sendiri, menyutradarai sendiri, hingga nanti mereka harus ngedit film sendiri. Kami hanya mendampingi dan memberi pengarahan.” Ungkapnya.

recording di belakang rumah Pratik

recording di belakang rumah Pratik

Selain itu Insan juga menjelaskan. Semua gambar yang mereka dapatkan adalah asli dari jerih usaha mereka sendiri, begitu pula dengan penggunaan Illustrasi musik pada film mereka. Mereka tidak asal menggunakan musik yang sudah ada seperti halnya lagu-lagu Band yang beredar di pasaran. Hal ini sangat perlu diperhatikan mengingat proses penghargaan terhadap sebuah karya. Sebisa mungkin karya mereka tidak cacat hukum. Artinya tidak menggunakan karya orang lain.

Oleh sebab itu, untuk masalah Illustrasi musik, para sutradara muda ini melibatkan beberapa seniman musik di Cilacap. Diantaranya Sasmito Adi Atmono, S.Sn dan Pratik Heri, S.Sn.

Kedua seniman besar itu memang sudah ahli dalam hal menciptakan Illustrasi musik baik untuk pertunjukan maupun untuk film. Keterlibatan para seniman musik itu ternyata juga memotivasi para siswa yang tengah menjalani Prakerin di TBM Sangkanparan ini. Mereka mencatat kembali beberapa scene yang membutuhkan illustrasi musik dan kemudian melakukan proses Recording bersama. Proses perekaman musikpun dilakukan secara sederhana. Para siswa hanya menggunakan kamera video untuk merekam para seniman itu memainkan alat musiknya. Tanpa menggunakan alat yang mahal atau bahkan menyewa studio musik yang mungkin akan memakan biaya yang besar. Semua dilakukan dengan sederhana. ”Rekamannya pake kamera biasa, lokasinya juga cuma di halaman belakang rumah mas Pratik” Ungkap Lia Budi Cahyani yang masih terus menyelesaikan editing film Kampung Tudung.

Dengan keterbatasan yang ada itulah, para siswa dilatih menciptakan sebuah karya yang indah dan bisa dinikmati banyak orang. Sangkanparan terus memberikan support kepada para remaja di Banyumas Raya untuk terus berkarya tanpa henti. Tak ada alat, bukan berarti tidak bisa berkarya kira-kira begitulah ungkapan yang sering kita dengar dari para motivator baik di tivi-tivi maupun di radio.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 11, 2013 in BERITA TERBARU, Utama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: