RSS

Tiap hari, nonton dan resume Film.

26 Jul

kegiatan siswa menonton film

kegiatan siswa menonton film di ruang sederhana

Untuk dapat membuat film yang baik, minimal kita harus memiliki referensi yang banyak. Salah satu kegiatan yang selalu ada di setiap program Prakerin di TBM Sangkanparan adalah meresume film. Yaitu Menonton film, mengamati, dan kemudan menuliskan ulang apa isi dari yang diceritakan dlm film tersebut. Selain itu, dalam proses meResume film, film tidak hanya ditonton sekali, namun berulang kali.

Sekiranya dalam seminggu kedepan, peserta Prakerin di TBM Sangkanparan ini akan disibukkan dengan proses meresume film documenter. Agar nantinya 14 siswa yang terdiri dari 7 Siswa SMK N1 Kebumen dan 7 siswa SMK Muhammdiyah Majenang dapat dengan mudah menggaali ide-ide ringan yang akan mereka angkat menjadi sebuah film documenter.

Ditahap selanjutnya, para siswa akan diberi tugas membuat treaatmen atas ide cerita yang akan mereka angkat menjadi film documenter. Treatment merupakan acuan dalam film documenter. Semacam scenario, hanya saja tidak mencakup penjelasan mengenai setting ruang, dialog, kostum dan lain-lain. Karena dalam memproduksi film ddokumenter, bisa saja ide menjadi berkembang dilapangan.

Setelah treatment jadi, nantinya mereka harus mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Dengan membreakdown semua kebutuhan secara terperinci. Sehingga kita bisa tahu betul kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi film tersebut.

Bagi Yuni Etifah siswi SMK N1 Kebumen, dengan meresume film ia menjadi banyak mengenal jenis-jenis film. Ia jadi banyak memahami cara bertutur film yang berbeda-beda. Selain itu, Yuni merasa banyak belajar untuk bercerita, melalui tulisan yang ia buat. Meresume film juga mengajarkan bagaimana cara bertutur dalam bahasa tulis. ” Kita harus menulis, menceritakan apa yang kita tonton”  jelas Yuni.

Belakangan ini, banyak siswa/remaja yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Meski tergolong orang yang berpendidikan, tapi tak jarang kita menemukan siswa yang tidak bisa berbicara. Bukan bisu, tapi ia bingung apa yang harus ia sampaikan. Sudah tentu merseme juga melatih siswa agar dapat melatih cara berkomunikasi mereka. “Nanti bisa terlihat disitu, siapa saja yang cara bertuturnya berantakan, maka dalam kehidupan nyatanya ia juga gagal dalam mengkomunikasikan sesuatu” ungkap Insan presiden komunitas Sangkanparan.

v

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2013 in BERITA TERBARU

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: