RSS

Kampung Batik Maos, Pertahankan Tradisi Budaya

08 Jan
peserta prakerin sangkanparan belajar membatik

peserta prakerin sangkanparan belajar membatik

Bagi yang belum mengerti keberadaan Batik Maos, ada perlunya sedikit mengerti tentang Batik Maos Rajasa Mas. Batik maos ini sudah ada sejak masa perang Pangeran Diponegoro. Melalui motif-motifnya, batik yang saat itu digunakan sebagai symbol atau sandi perang Pangeran Diponegoro ternyata terbukti mampu mengecoh perhatian Belanda, sehingga membuat Belanda jadi kocar-kacir. Kemudian batik maos ini berkembang hingga masa kejemasan di tahun 1950 sd 1970. Disebut masa keemasan, karena harga 1 lembar kain Batik Maos bisa setara dengan 3 gram emas. Waktu demi waktu berjalan hinggga pada awal 1980 masa kejayaan Batik Maos mulai redup dikarenakan munculnya batik Pekalongan dan juga Solo yang konon harganya jauh lebih murah dibandingkan batik Maos. Dan kemudian batik Maos mengalami mati suri.

Terdorong dari hal diatas, Tonik Sudarmaji cucu pewaris Batik Maos ini mencoba kembali menghidupkan warisan budaya yang sempat mati suri tersebut. Dan akhirnya di tahun 2007 munculah Batik Maos Rajasa Mas. Tonik Sudarmaji bersama istri tercintanya Euis Rohaini mencoba mencari kembali para pelukis batik yang memahami goresan khas batik maos. Tonik Sudarmaji menjelaskan“Memang sulit sekali mencari pengrajin yang mau, tapi akhirnya kami menemukan 1, dan kemudaian bertambah jadi 5, dan sekarang kami sudah punya 80 ibu-ibu pembatik di Maos” ungkapnya di kediamannya sambil menata lembar-demi lembar batik yang baru saja kering dari proses penjemuran.

Perkembangan Batik Maos ini sangat cepat. Tak hanya mengisi pameran dan kegiatan di tingkat Nasional, Namun Batik Maos khas Cilacap Rajasa Mas juga sering mengisi kegiatan pameran, carnival, dan juga berbagai kegiatan di Luar Negeri. Seperti halnya pameran internasional di Yordania, Malaysia, Bangladesh dan lain-lain.

Yang menarik disini adalah, hampir beberapa rumah-rumah di Maos memiliki aktifitas membatik. Ibu-ibu tak lagi pergi ke luar negeri menjadi TKW, cukup bekerja di rumah dengan bekal malam dan canting, tiap pagi membatik. Sebut saja ibu Maiah, pengrajin batik yang sudah tahunan bekerja di Rajasa Mas ini mengungkapkan “Keberadaan Batik Maos Rajasa Mas ini cukup membantu perekonomian ibu-ibu di desa Maos” Hingga pada akhirnya Desa Mos ini disebut sebagai kampung batik.

peserta prakerin Sangkanparan belajar membatik

peserta prakerin Sangkanparan belajar membatik

Euis Rohaini, pemilik Batik Maos Rajasa Mas ini menyatakan bangga bisa memasarkan produk local ini hingga ke berbagai penjuru tanah air. Motif yang di ciptakan sangat beragam. Semua motif yang diciptakan hanya satu dan limited. Hal ini dilakukan untuk menghargai pembeli. Agar pembeli juga memiliki kebanggaan tersendiri karena motif yang dimiliki berbeda dengan lainnya. Wanita berparas cantik yang akan menghadiri acara kenegaraan mewakili Indonesia di Ankara Turki ini berharap adanya pembatik-pembatik muda yang akan meneruskan budaya bangsa ini. Karena pengrajin-pengrajin di Rajasa Mas ini rata-rata ibu-ibu yang berusia 45 tahun ke atas. “Bayangkan 5 sampai 10 tahun kedepan, jika tidak ada pengrajin batik muda yang meneruskan. Bisa jadi Batik maos akan mengalami mati suri lagi” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Oleh sebab itu, selain mengembangkan Kampung batik di Maos. Tonik dan juga Euis istrinya juga mengembangkan study centre tentang batik. Segala hal akan diajarkan disitu. Mengenal pembuatan Canting, canting cap, belajar membatik, pewarnaan sampai finishing. Tak hanya itu, setiap anak yang akan belajar membatik di situ tidak dipungut biaya sepeserpun. Hal ini dilakukan dengan motivasi menemukan bibit-bibit baru para pengrajin batik yang handal yang dapat meneruskan warisan budaya bangsa yang luhur ini.

Secara terpisah, Insan Indah Pribadi yang merencanakan Kampung Batik sebagai tujuan tour wisata dalam rangkaian Festival Film Ngapak Maret/April mendatang mengajak para peserta prakerin SMK Dr. Soetomo Cilacap belajar membatik di Rajasa Mas. Insan berharap adanya peran serta pemerintah untuk bersama-sama mengembangkan Batik Maos ini. Seperti halnya di kota-kota lain, para Pegawai Negerinya di wajibkan mengenakan pakaian batik khusus di hari-hari tertentu. “Penghargaan tersebut Minimal dilakukan oleh pemerintah yang mau menggunakan produk khas Cilacap dan diikuti oleh stafnya di seluruh Kabupaten Cilacap. Maka otomatis tingkat ekonomi ibu-ibu di kampung batik ini jadi terangkat, dan yang lebih membanggakan yang mengangkat perekonomian tersebut adalah Bupatinya sendiri”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2013 in BERITA TERBARU

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: