RSS

Pember “REBUTAN WC”

04 Mar

Apa jadinya kalau orang kebelet musti rebutan WC..?

Film pendek garapan Pember Diono ini hendak bercerita tentang kehidupan warga perkotaan yang memanfaatkan akses WC umum dalam kehidupan sehari-harinya. Warga komplek gang kokosan Cilacap dengan kehidupan rumah yang berhimpit satu dengan lainnya hampir tak mempunyai akses sanitasi dirumahnya. Mereka memanfaatkan WC umum bersama-sama warga yang lain.

Adalah Kenyot, salah satu mahasiswa yang hendak membuang hajat sekaligus mandi untuk berangkat kuliah terpaksa harus membela diri karena WC yang hendak ia pakai direbut oleh Nofendi yang saat itu mencoba merebut masuk karena kebelet buang air besar.

Film ini hanya menceritakan rebutan wc saja, tanpa harus bertele-tele menceritakan kehidupan warga perkotaan yang sebagian besar tidak memiliki wc sebagai tempat buang air besar. Pember sendiri yang bertindak selaku sutradara dalam film ini, ingin mecuplik satu kisah unik yang kerap terjadi di kampungnya itu. Salah satunya kejadian rebutan WC itu sendiri. “Saya cuma ingin memvisualkan kejadian rebutan WC, itu saja” ungkap pria yang masih duduk di kelas 2 SMK Dr. Soetomo Cilacap sembari ngemut permen lolipopnya.

Sementara Insan Indah Pribadi selaku produser film ini menjelaskan, film ini merupakan produksi siswa SMK Dr. Soetomo Cilacap dalam Program Prakerin di TBM Sangkanparan. Sebagai bentuk pembelajaran kepada siswa tentang praktek produksi film yang terarah. Insan Indah Pribadi sendiri menyayangkan adanya beberapa sekolah yang memberikan tugas kepada siswanya untuk membuat film, namun siswa tidak dibekali tentang tekhnik membuat film yang baik, minimal membuat cerita yang baik. Sehingga yang terjadi adalah, para siswa membuat film dengan ngawuran. (tak terarah)

“Sayang sekali ketika ceritanya bagus, tapi eksekusinya ngawuran. Parahnya lagi banyak dari mereka yang asal membuat cerita dan asal-asalan pula memproduksinya”

Pentingnya referensi akan film pendek menjadi hal utama bagi siswa untuk bisa membuat film baik. Jika mereka tak memiliki referensi, maka bisa dipastikan filmnya jelek ! Oleh sebab itu TBM Sangkanparan menerapkan sistem menonton film dan meresum film selama 2-3 minggu kepada siswa yang sempat menjalani program Prakerin di TBM Sangkanparan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2012 in Utama

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: