RSS

Arsip Bulanan: Agustus 2007

1126km Road Show Film Pendek FFM-Cilacap

img_2964.jpgtn.jpgPada Hari Minggu, 19 Agustus 2007 griya Sangkanparan yang berada di jl. Nusantara No.20 A Karangtalun Cilacap dipenuhi dengan gelak tawa, canda dan sederetan suara yang agak asing tak asing. Ya, pasalnya saat itu anak-anak yang tergabung dalam FFM (Forum Film MMTC-Jogjakarta) hadir di Cilacap. Kehadiran mereka di Cilacap dalam rangkaian 1126 km Road show film independent ke beberapa kota, salah satunya adalah Cilacap.Ditunjuklah SMAN1 Cilacap serbagai tempat FFM untuk berbagi rasa dan memutar beberapa film-filmnya.Maka dari itu pada Hari Senin, 20 Agustus 2007 pukul 15.30wib diputarlah 4 Film karya mahasiswa MMTC yang diselingi dengan diskusi santai/obrolan ringan.Acara screening tersebut tidak hanya dihadiri oleh siswa/i SMAN1 Semata, namun juga hadir siswa/i dari beberapa sekolah di Cilacap, antara lain SMA Yos Sudarso Cilacap, SMPN04 Cilacap, SMP Muhammadiyah I Cilacap, rekan-rekan TVE Cilacap, Adritama prod, Pilax Prod, dan juga para wartawan yang saat itu juga mengikuti diskusi…Anang Nurasa selaku guru dan juga penanggung jawab acara dari pihak SMAN01 Cilacap, merasa sangat surprise melihat karya-karya anak-anak FFM. “Alangkah baiknya acara seperti ini tidak hanya berakhir sampai disini, namun ada kontinyuitasnya, kami merasa sangat memerlukan referensi agar kedepannya siswa-siswi di SMAN 1 Cilacap dapat lebih memahami tentang film” Selain ketertarikan dan rasa bangganya, Anang Nurasa juga mengajak seluruh sekolah yang berada di Cilacap untuk bersama-sama menghidupkan gairah perilman daerah untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa.Acara diakhiri dengan kalimat ajakan untuk tetap semangat demi perjuangan film pendek Indonesia, dan mereka pun beranjak dari SMAN1 Cilacap untuk sekedar berkeliling Cilacap, dan menikmati Ikan bakar di pesisir pantai teluk penyu Cilacap.(see u FFM—selamat jalan, semoga selamat sampai Purbalingga)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 21, 2007 in BERITA TERBARU

 

Semarak Agustusan dengan Layar Tancap

6o.jpgSelepas sholat Ashar, selembar kain putih dibentangkan di sisi pojok sport center Perumahan Mustika Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Anak-anak, yang sebagian ditemani ibu mereka, berkejaran di lapangan bulutangkis yang sekaligus untuk lapangan bola voli itu.

 

“Bu.. Bu…! Ntar malam ada film. Nonton ya…?!,” celoteh seorang anak. “Iya, tapi jangan nakal ya…!,” jawab ibunya diikuti anggukan si anak yang kemudian berbalik dan kembali berkejaran dengan teman-temannya.

Sebagian warga mampir atau sekedar lewat, dan masih belum paham film-film semacam apa yang hendak mereka tonton dimalam harinya. Mereka mencari jawab atas itu. “Film dari Jawa”, “Film bikinan sendiri”, “Film-film pendek”.

Demikian jawaban yang mereka dapatkan, dari warga lain juga yang sudah lebih dulu informasinya. Apapun yang warga dapatkan, akan dibuktikan bersama dimalam harinya. Rasa penasaran pun semakin besar.

Panitia Peringatan HUT RI Ke-62 RW 08 Perum Mustika Tigaraksa, Sabtu malam, 18 Agustus 2007, mengajak kerja bersama Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga dan Ujan Rintik Production, komunitas film di Kota Tangerang, menggelar tayangan layar tancap untuk memeriahkan ulang tahun negeri ini.

 

“Kebetulan warga perumahan banyak perantauan dari Banyumas, Jogja, dan daerah lainnya. Ya kami ajak saja tukang bikin film dari Purbalingga untuk putar film di sini,” ujar Santosa, Ketua Panitia HUT RI.

 

Selepas Isya, warga perumahan berbondong-bondong dari segala penjuru. Anak-anak duduk manis di bagian depan layar. Pukul delapan lewat, penonton sudah tak sabar. Tanpa menunggu lama Ketua RW 08 untuk memberi sambutan, film pun mulai diputar.

 

Film Perang Bubar dan Pasukan Kucing Garong mengawali perjumpaan CLC dengan warga Tangerang. Tepuk tangan tak terelakkan ketika tokoh yang dianggap ‘lakon’ dalam film muncul. Pun ketika film itu bubar.

 

1.jpgSelain kedua film di atas, ada lima film lagi dari Purbalingga yaitu Metu Getih, Boncengan, Peronika, 500 Perak toek Negrikoe, dan Buruh Berani Menolak. Warga pun diingatkan kembali kejadian gempa setahun silam dengan menyaksikan dua film dari Jogja 27 Mei 2006 05.55 sutradara Zein Muffarih Muktaf dan Harap Tenang Ada Ujian karya sutradara Ifa Isfansyah. Tak lupa sebuah film dokumenter dari Ujan Rintik tentang warga Kota Tangerang di jalanan pun turut diputar.

 

Semakin berdaya tarik, gelaran layar tancap dihujani doorprize dari warga untuk warga. Disamping sebuah tayangan bagaimana semaraknya peringatan Agustusan di perumahan itu yang dikemas kocak.

 


 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 21, 2007 in BERITA TERBARU

 

2 Film CILACAP HADIR di JAFF

senja.jpgJAFF atau “Jogja Netpac Asian Film Festival” yang digelar pada 29 Juli – 02 Agustus 2007 di Taman Budaya Jogjakarta memberikan ruang bagi para komunitas Film di Indonesia untuk memperlihatkan / mempertontonkan film-filmnya. Dari ratusan film yang berasal dari berbagai komunitas film di Indonesia, 2 Film diantaranya adalah Film dari SANGKANPARAN. Film tersebut adalah “Anak Pejabat” film singkat berdurasi 3 menit – karya Insan Indah Pribadi, yang diputar pada 30 Juli 2007 dalam sesi Temu Komunitas dan “Senja di Pesisir Kidul” yang diputar pada 1 Agustus 2007 hasil pilihan dari beberapa komunitas film di Indonesia.(keduanya diputar di Taman Budaya Yogyakarta)

Insan Indah Pribadi – selaku pegiat film yang berasal dari Cilacap, merasa sangat bangga dengan diputarnya beberapa karya sangkanparan dalam ajang Festival Film tingkat Asia. Itupun berkat bantuan kelompok manajerial yang sudah tidak diragukan lagi yaitu AFF “Arisan Film Forum” –Purwokerto. “Melalui AFFlah film-film kami bisa masuk dalam ajang 2nd JAFF 2007” ujar Insan Indah Pribadi saat diwawancarai oleh team blog sangkanparan

Rasa Bangga yang tak terkira, meski sedikit beriring desas-desus kepedihan, Insan Indah Pribadi melajukan roda motornya dari Cilacap menuju ke Jogja. Hal tersebut dilakukan bukan 100% untuk melihat film-film di JAFF tapi justru untuk membangun hubungan jejaring antar komunitas yang selama ini sulit dilakukan. “Bayangkan aja, suatu saat saya butuh brain storming dengan teman2 di Konfiden, saya harus pergi ke Jakarta untuk menemuinya, lalu tiba-tiba ingin bertemu teman-teman di Malang, otomatis harus pergi ke Malang…Lha di sini beda..Ternyata teman-teman dari Purwokerto, Purbalingga, Jakarta, Malang, Surabaya, dan lain-lainnya hadir lho…jadi ya , sekalian bangun hubungan aja tho, biar terkesan lebih Harmonis….” Ungkap Insan lugas…

Sementara saat penutupan acara di JAFF, malam itu, Insan melajukan motornya ke SOLO, guna menghadiri acara teater Ruang mengenang mbah Roedjito. Baru keesokan harinya, Insan bertemu kembali dengan Garin Nugroho, yang sebelumnya juga bertemu di Jogja.

 

Obrolan bersama Garin Nugroho

Secara umum, Garin Nugroho menyatakan sangat perhatian sekali dengan komunitas-komunitas Film di Indonesia yang ingin mengapresiasikan karyanya di Ajang JAFF 2007 ini. Maka dari itu selaku Presiden JAFF ia memberikan ruang “INDEPENDEN CORNER” dalam Rangkaian 2nd JAFF 2007. Ia juga sangat senang ketika mendengar ternyata banyak sekali bermunculan film-film dari daerah-daerah yang berusaha mengangkat kultur daerahnya masing-masing. Salah satunya adalah Film Banyumasan. “Kita akan coba putar beberapa film-film JAFF di Banyumas deh…asal bisa terjadi koordinasi yang baik dengan Jaringan Kerja Film di Banyumas” ucap Garin ketika ngobrol santai bersama Insan, Dewi, dan Pilak di sanggar Teater Ruang Solo , 3 Agustus 2007.

Obrolan tersebut mengalir santai dan tambah hangat ketika Slamet Gundono ikut ngobrol dan berguyon bersama-sama.

 

Penyelenggaraan JAFF terkesan Egois

(ungkapan pribadi dari Insan) “Film anak-anak komunitas diputar pada venue tersendiri dan dinamakan “INDEPENDENT CORNER” – wah, diulas dari maknanya aja udah terkesan Terpojokkan dan Independen pula….makannya kalo udah independent jangan ngganggu yang lain..gitu kan yah? Justru itulah yang seharusnya diperhatikan. Dan seharusnyalah ada informasi detail tentang Screening Film anak-anak Komunitas film dari berbagai daerah, agar semua orang yang hadir juga tau. Kasian kan, udah jauh-jauh datang dari kota lain filmnya ga ada yang nonton. Parahnya lagi, komunitas film dari daerah-daerah ga ada yang berusaha menghargai screening Independen Corner ini. Misalnya Surabaya lagi screening neh…ehh yang nonton anak-anak surabayanya sendiri, dan diskusinya juga anak-anak Surabaya sendiri, mana komunitas lain? Giliran komunitas sendiri akan putar film, gembar-gembor minta ditonton… eh, hal yang sama terjadi pula. Jadi kesannya komunitas film Indonesia pada ngongso…ahhh-mungkin itu perasan de Insan ajah….Nggak tau ada perasaan pahit apa lagi di MESS yang disediakan oleh JAFF bagi para komunitas yang hadir di Jogja. (sory ga bisa coment-soalnya selain ga ngerasain langsung istirahat di INDIE CAMP, juga ngga ada yang peduli sama inyong..he) –Insan sendiri yang nulis

Informasi, berita, dan obrolan hingga terciptanya tulisan ini atas inspirasi lewat tengah malam bercengkrama dengan Ahsan-Konfiden Jakarta di Indie Camp pada 02 Agustus 2007 jam 00 sd jam 03.12 WIB—maaf ya udah jadi penghuni gelap dalam semalam (gitu aja kok dipikrin..emangnya siapa yang peduli sama kamu Insan !!!)—hehe )

 

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 10, 2007 in BERITA TERBARU

 

CLC Putar Film di Tangerang

Memasuki tahun kedua, Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga kembali menggelar program ‘Layar Tancap’. Bulan Agustus dirasa tepat untuk mengadakan even yang dulu sempat mengakar dimasyarakat kecil. Pada bulan bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia , masyarakat haus akan hiburan. “Mereka rela keluar rumah meninggalkan layar kaca. Mencari tontonan alternatif. Dan layer tancap dinilai hiburan paling aman di luar rumah,” tutur Manager Program CLC Bowo Leksono. Tahun lalu, CLC sukses menggelar di 10 desa di wilayah Kabupaten Purbalingga. Tahun 2007 ini, CLC disamping menggelar di beberapa desa di Purbalingga seperti Desa Gandasuli, Desa Karangtalun Kecamatan Bobotsari, Desa Penaruban. Di samping beberapa desa yang meminta CLC untuk memutar film. CLC juga hendak melebarkan sayap memutar film di Perum Mustika Desa Pasir nangka, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Sebagian penghuni perumahan itu berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta . “Mereka meminta saya memutar film di sana ,” kata Bowo. CLC juga melebarkan sayap dengan mengajak kerjasama Kaki Langit, komunitas film indie dari Kota Tangerang. Pada Sabtu, 11 Agustus 2007, kami hendak memutar film bersama di Rumah Belajar Keluarga, Tanah Gocap, Markas Kaki Langit di Kota Tangerang. Baru pada 17 Agustus 2007, CLC bersama Kaki Langit menggelar layar tancap di Perumahan Mustika. Pernah senasib Kaki Langit meminta film documenter “Bioskop Kita Lagi Sedih” turut diputar untuk menjadi bahan diskusi bersama. Film kontroversial ini ternyata menjadi film yang menarik bagi berbagai komunitas film indie.

Koordinator Kaki Langit, Edi Bonetsky mengatakan, apa yang dialami anak muda Purbalingga pernah dialami mereka 10 tahun silam. “Kami juga pernah mengalaminya, tidak dianggap oleh Pemkot kami. Dan kami tidak pernah patah semangat. Terus memperjuangkan nasib seniman. Sangat lucu pemerintah menyepelekan sumber daya,” ungkapnya. CLC Purbalingga rencana memutar delapan film yaitu Peronika, Metu Getih, Pasukan Kucing Garong, Boncengan, 500 Perak toek Negerikoe, Adu Jago, Lelaki Pesolek, dan Bioskop Kita Lagi Sedih. Setelah pemutaran akan digelar diskusi untuk saling tukar pengalaman.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 9, 2007 in BERITA TERBARU