RSS

Kucing Garong dan Konsistensi Isu

13 Jul

(Catatan Parade dan Dialog Film Indie Purbalinga)

oleh: Teguh Trianton ( Penyair dan Penikmat Film, kini tinggal di Purbalingga)

kg2.jpgPasukan Kucing Garong (PKG), film terbaik kategori fiksi Malang Film Video Festival (Mafvifes) 2007 berhasil terpilih sebagai film favorite pilihan penonton parade film Purbalingga 2007 yang digelar Sabtu (7/7) kemarin. Dalam parade 30 film pendek yang digelar untuk mengenang setahun tragedi malam kelabu pelarangan pemutaran film indie karya sineas yang tergabung dalam wadah Cinema Lovers Community (CLC) di gedung Graha Adiguna (oproom) komplek Pendopo Dipokusumo ini, Pasukan Kucing Garong mendapat suara terbanyak dari 750 pengunjung yang datang di gelaran tersebut.

PKG adalah film pendek yang mengisahkan bagaimana anak-anak kecil bermain perang-perangan dan mengatur strategi untuk mengalahkan lawan dalam pertempuran. Jalan cerita film yang terpilih sebagai film terbaik kategori fiksi Mafvifes 2007 ini sangat sederhana.

Mula-mula sekelompok anak melakukan musyawarah menentukan peran masing-masing yang akan dimainkan dalam sebuah pertempuran. Anak-anak membentuk pasukan perang, dengan persenjataan yang terbuat dari pelepah daun pisang dan bambu, mereka melakukan perang-perangan.

Salah seorang dari mereka bertindak sebagai jendral, sedangkan yang lainnya bertindak sebagai anak buah. Sang jendral kemudian menyusun strategi bagaimana mengalahkan dan merebut benteng lawan. Layaknya komandan pasukan perang, jendral membagi pasukannya menjadi beberapa divisi, dengan tugas penyerangan dari segala lini.

Wilayah terminal, pasar dan perbukitan merupakan sasaran penyerbuan utama, untuk itu pasukan dibagi menjadi tiga kekuatan. Masing-masing pasukan mendapat komando dari seorang panglima perang, untuk menjaga dan mempertahankan wilayahnya.

Yang menarik dari film dengan dialog dan dialek khas bahasa Banyumasan ini adalah kisah romantisme anak-anak yang ditampilkan oleh sosok sang jendral. Meski masih anak-anak namun imajinasi kisah cinta yang ditampilkan menyerupai romatisme orang dewasa. Dengan penuh kasih sayang, sembari pamit untuk melaksanakan tugas di medan laga, sang jendral memberikan secarik selendang sebagai kenangan manakala sang kekasih gugur di medan pertempuran

Konsistensi Isu

kg.jpgSelain pemutaran 30 film indie produksi lokal Purbalingga, gelaran parade film ‘satu tahun kita bersedih’ juga diisi dengan dialog perfilman. Hadir sejumlah pegiat film dan sineas dari Semarang, Solo, Purwokerto dan Jakarta.

Sutradara film asal Semarang Arto Wibowo dalam kesempatan dialog mengungkapkan bahwa yang menarik dari film-film pendek produksi sineas Purbalingga yang tergabung dalam wadah CLC adalah keberanian dan konsistensi penggarapan isu lokal.

Lokalitas isu baik yang tergambar melalui bahasa dalam dialog antar pemain, seting atau latar alam pedesaan, kehidupan kaum bawah, justru menjadi sebuah karakter yang kuat sebagai ciri film indie Purbalingga. Lokalitas isu, menurut Arto perlu dipertahankan.sebab selama ini lokalitas isu-lah yang menjadikan film-film indie Purbalingga merebut perhatian sehingga meraih sejumlah penghargaan di berbagai kancah festival.

Film Pasukan Kucing Garong (PKG), misalnya, film ini dinobatkan sebagai film terbaik kategori fiksi pada Malang Film Video Festival (Mafvifes) 2007, karena selain menggunakan bahasa khas Banyumas sebagai bentuk lokalitas, isu yang diangakat dalam film ini juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak yang bertindak sebagai pemeran film.

Bahkan hampir seluruh film indie Purbalingga yang berhasil meraih penghargaan merupakan film-film yang mengangkat isu-isu lokal. Seperti Cuthel karya Agusty Patra dan Metu Getih (nominasi Mavifest 2007 dan FFI 2006). Kemudian keluguan tokoh Parno dalam film Peronika berhasil mengantarkan film ini menyandang predikat Ide Cerita Terbaik dalam Surabaya 13 Film Festival tahun 2005, dan Nominasi Mavfifest 2006.

Selain kategori fiksi, film-film dokumenter karya sineas Purbalingga juga berhasil meraih penghargaan. Film dokumenter Merajut Tradisi misalnya, film ini menjadi nominasi Festival Film Dokumenter 2006. Merajut tradisi adalah film dokumenter yang mengangkat seni batik asli Banyumasan, yang hingga saat ini perkembangannya kian memprihatinkan.

Lokalitas tradisi semacam ini juga diangkat dalam film dokumenter Adu Jago, film terbaik kategori dokumenter Mafvifest 2007 ini juga mengangkat bagaimana demokrasi dimaknai oleh masyarakat pedesaan. Demikian halnya dengan Lengger Santi, dan Dokar. Keduanya mengangkat budaya lokal tarian lengger dan alat transportasi dokar yang mencoba bertahan di antara gilasan kemajuan jaman.

Selain Arto, nara sumber lain yang hadir dalam dialog yang digelar di sela-sela pemutaran 30 film ini, diantaranya Joko Susilo sineas asal Solo, dan Bayu Kesawa Jati Programer Arisan Film Forum (AFF) Purwokerto.

<--selengkapnya-->

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 13, 2007 in BERITA TERBARU

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: