RSS

Arsip Bulanan: Juni 2007

Lokalitas Isu Film Independen jadi ‘FENOMENA’

(oleh Teguh Trianton)

 

ttr2.jpgGeliat dunia perfilman independen (indie) lokal Purbalingga dari waktu ke waktu terus berkembang. Bak cendwan di musim penghujan, belsan rumah produksi tumbuh dan bertebaran. Tercatat sedikitnya sudah ada 17 production house (PH) atau rumah produksi film lokal lokal tergabung dalam wadah Cinema Lovers Community (CLC).
Saat persemaiannya pada tanggal 4 Maret 2006 lalu, CLC berdiri hanya dengan 4 rumah produksi sebagai anggota, masing-msing Laeli Leksono Film, Glovision Production, Beda Studio dan SBH Entertainment. Meski baru empat anggota, namun saat itu, CLC telah mampu ‘bebicara’ dengan memproduksi puluhan judul film indie. Dengan mengangkat isu-isu lokal menjadi tema film indie Purbalingga, mereka terus berkembang.
Dari empat anggota tersebut, hingga tahun 2007 ini perkembangan jumlah anggota CLC terus bertambah. Sejumlah PH baru bermunculan dan menyatakan bergabung dalam satu wadah CLC. Beberapa diantaranya yaitu, Bochary Film, UTDC Film, Multivita Min, BOZZ Community, Loekita Films, Pram Production, Les Bumi Toek Sinema, Kamuajo, dan FM Studio. Tentu saja, geliat ini menjadi sebuah fenomena tersendiri dlam perkembangan film indie di Purbalingga.
Apalagi, saat ini CLC mulai melakukan regenerasi dengan ‘menggarap’ sineas pelajar SMA untuk dibentuk menjadi sineas muda yang bekualitas. Hasilnya cukup fenomenal, dari SMA Negeri 1 Purbalingga kemudian lahir rumah produksi Tjap Gadjah, demikian juga dengan SMA Negeri Bobotsari. Yang lebih fenomenal lagi adalah lahirnya tiga rumah produksi sekaligus di SMA Negeri 2 Purbalingga. Brankers Production 3 Generation Of Brankers, dan Brangkas Film Production belum lama ini telah menyelesaikan tiga film indie yang mengangkat isu atau tema lokal.
Lokalitas isu inilah yang kemudian menarik untuk diangkat dalam sebuah acara liputan khusus bertajuk ‘Fenomena’ oleh sebuah stasiun televisi swasta. Senin (18/06) kemarin, sejumlah awak Trans TV yang tergabung dalam tim liputan Fenomena mengunjungi markas sineas muda Purbalingga, untuk melakukan wawancara. Bukan hanya itu, tim Fenomena juga berkesempatan melihat langsung proses pengambilan gambar dalam sebuah proses produksi film indie di SMA Negeri 2 Purbalingga.
Pegiat CLC Heru C. Wibowo yang mendampingi Tim Fenomena, mengungkapkan bahwa, banyaknya Festival Film yang telah diikuti baik di dalam dan luar negeri dan berbagai prestasi yang telah diraih, menjadikan dunai film indie Purbalingga sebagai sorotan, setidaknya bagi Tim Fenomena.
Dua anggota Tim Fenomena, yaitu Novari M (reporter) dan Wibowo Saputro, (produser) menilai bahwa film-film yang dihasilkan dari Kota Purbalingga ini memliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Dalam penilaian mereka, ditengah kecenderungan tontonan film yang mengumbar modernitas, Purbalingga justru menyuguhkan film yang kental dengan nuansa lokal.
Keberanian mengangkat kultur daerah sendiri, termasuk budaya banyumasan inilah, yang menurut keduanya menjadi kunci keberhasilan film purbalingga meraih predikat juara dan penghargaan diberbagai festival yang pernah diikuti.
Pengambilan gambar ‘Fenomena’ sendiri, dimulai dari SMA N 1 Purbalingga, dengan mewancarai dua sutradara muda asal sekolah tersebut, Di SMA N 1, selain mewawancarai dua sineas perempuan yaitu Niken Sarasvati Devi dan Atik Rindarsih, mereka juga menyaksikan langsung proses pembuatan film. Saat itu, Tjap Gadjah production, tengah melakukan shooting penggarapan film kedua yang berjudul “Jam Kosong.” Liputan berahir di SMA Negei 2 Purbalingga

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2007 in Tak Berkategori

 

BP2N RESMI Batalkan Kemenangan EKSKUL dan NAYATO di FFI 2006

Prima Rusdi

Kamis, 21 Juni 2007, Presidium gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI), telah menerima kepastian mengenai dibatalkannya kemenangan EKSKUL dan Nayato yang terpilih sebagai film terbaik dan sutradara terbaik di ajang FFI 2006 lalu. Adapun Surat Keputusan bernomor 06/KEP/BP2N/2007, tentang Pembatalan Piala Citra Utama untuk Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2006 tersebut ditanda-tangani oleh ketua BP2N, Deddy Mizwar.

Beberapa pertimbangan yang mendasari keputusan tersebut antara lain karena adanya sejumlah polemik dipicu oleh tuduhan pelanggaran Hak Cipta atas penggunaan musik di dalam film tersebut, dan setelah mengkaji ulang dan komprehensif soal pelanggaran hak cipta tersebut, BP2N menganggap perlu mengambil tindakan terhadap EKSKUL dan Nayato. Dengan diputuskannya pembatalan tersebut, BP2N juga menetapkan untuk MENIADAKAN pemenang Piala Citra Utama untuk kategori Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia Tahun 2006. SK ini ditetapkan pada tanggal 15 Juni 2007.

Kontroversi soal EKSKUL telah berlangsung sejak awal berakhirnya ajang FFI tahun 2006 lalu. Protes terhadap pelanggaran yang telah dilakukan oleh film ini, menjadi salah satu hal pokok dari tuntutan yang diajukan oleh gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dicetuskan pada tanggal 3 Januari 2007 lalu. Gerakan ini merupakan gerakan moral yang terdiri dari pekerja film aktif juga beragam unsur masyarakat yang punya kepedulian terhadap perfilman nasional. MFI bertujuan untuk mendorong terciptanya sejumlah perbaikan struktural dalam perfilman Indonesia, diantaranya menyangkut masalah sistim kelembagaan film Indonesia, dan UU film no. 8 tahun 92 yang sudah tidak kondusif dengan keadaan saat ini.

Meski dalam Pernyataan Bersama MFI juga disebutkan adanya permintaan gerakan ini agar pembatalan kemenangan EKSKUL disertai juga dengan pertanggung-jawaban terbuka dari penyelenggara FFI serta ditiadakannya FFI untuk sementara, belum ada kejelasan dari BP2N mengenai hal tersebut.

MFI sendiri sejak awal telah sepakat untuk meneruskan gerakan ini dengan terus bekerja secara sistimatis, dan bahwa pembatalan soal EKSKUL ini bukanlah pertanda akan berakhirnya gerakan ini.

(data diambil dari –> masyarakatfilmindonesia.wordpress.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2007 in BERITA TERBARU

 

MARI BERMAIN DOKUMENTER

hardok-4-pwt.jpgFilm pendek bukanlah film kelas dua yang hanya dipandang sebelah mata. Sebuah stasiun televisi di Australia sudah menayangkan film-film berdurasi satu menit. Jika film panjang mengandalkan alur cerita, maka film pendek menumpukan kekuatan yang utama pada ide.

Nah, ide inilah yang kerapakali menjadi titik kelemahan sineas tanah air. Fenomena itu rupanya ditangkap dengan baik oleh Programer Arisan Film Forum (AFF), Bayu Kesawa Jati. Dengan menggandeng Kafe Bintang di Jalan Adyaksa No. 2 Purwokerto, digelarlah acara pemutaran dan diskusi film Hari Dokumenter (Hardok) #4 bertajuk “Mari Bermain Dokumenter!” pada Sabtu malam (9/6) lalu.

“Saya ingin menunjukkan betapa sejumlah sineas menemukan ide dengan semangat bermain-main, seperti anak-anak. Konsepsi main-main para sineas ini dikolaborasikan dengan kenakalan visual,” tuturnya.

insan2.jpgLihatlah film Anak Pejabat yang dibesut oleh Insan Indah Pribadi dari Sangkanparan, Cilacap. Film ini merekam bagaimana putra-putri para pejabat sebuah perusahaan besar di Cilacap bermain-main di tengah acara pengajian.
Sementara di podium seorang kyai sedang menyampaikan dakwah, di bawah podium seorang anak perempuan dan laki bermain smackdown. Anak-anak yang lain menabuh alat musik yang tergeletak di pojokan ruang dan sebagian sisanya bermain petak-umpet dengan riangnya.

Insan mengaku terkesima melihat pemandangan itu. “Saya tidak menyalahkan anak-anak yang berlaku demikian. Saya hanya bertanya-tanya, seperti apa mereka dididik orang tuanya. Karena pemandangan itu lucu dan terasa kontras, saya tangkap saja peristiwa itu menjadi film,” imbuhnya.

Isu Keperawanan
heru2.jpgSutradara Heru C. Wibowo dari UTDC Film Purbalingga juga membagikan proses letikan ide pembuatan film Mahkotaku 50:50. Menangkap pertanyaan seorang karibnya mengenai keperawanan, Heru mencari jawab dengan menanyakannya pada para pelajar.

Film sepanjang lima menit itu merekam jawaban para pelajar SMA dan SMP dari Purbalingga, Cilacap, Purwokerto dan Banjarnegara. Dengan apa adanya, Heru menampilkan silang pendapat dari para pelajar. Sebagian menganggap keperawanan dan keperjakaan penting, sementara yang lain tidak.

Gaya spontan menanggapi pertanyaan tak biasa itu kerap menghadirkan momen yang lucu. “Saya mencari jawaban atas pertanyaan usil itu dengan membuat film ini, sekaligus juga menyampaikan opini saya tentang isu kerjakaan dan keperawanan di tengah kaum muda saat ini,” jelasnya.

Film Adu Jago yang beberapa waktu lalu menggondol predikat sebagai Film Dokumenter Terbaik pada Malang Film-Video Festival (Mafvie Fest) 2007, semakin menambah gayeng para penonton malam itu.

Bowo Leksono, sang sutradara, memotret proses pemilihan kepala desa di Purbalingga dengan kenakalan visual. Bowo mencegat beberapa orang pemilih yang datang dari jauh untuk menanyakan motif mereka memberikan suara. Penonton tertawa mendapati banyak jawaban polos nan lugu, apalagi Bowo memakai bahasa ngapak-ngapak yang menjadi khas Banyumas.

Selain itu, film Lelaki Pesolek karya sutradara Niken Devi dan Atik Rindarsih dari Tjapgadjah Production (SMAN 1 Purbalingga) juga turut diputar. Sayangnya, kedua sineas perempuan ini tak bisa hadir untuk berbincang hangat dan membagi pengalaman dengan publik penonton malam itu. Bayu sempat membocorkan pesan singkat yang diterima dari salah satu sutradara. “Niken sebenarnya ingin sekali datang untuk presentasi dan diskusi di sini, tapi ndak boleh keluar malam sama ibunya,” katanya sembari tertawa.*

(ditulis oleh Sihar-Suara Merdeka. Kamis, 14 Juni 2007)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 21, 2007 in Tak Berkategori

 

3 Film Pendek SMA Purbalingga Siap Meluncur

Kerja keras pelajar SMA Negeri 2 Purbalingga akhirnya membuahkan hasil. Keinginan besar mereka untuk bisa belajar membuat film telah kesampaian. Tiga karya film pendek sekaligus siap meluncur di hadapan publik.

Tasmini, Boncengan, dan Lunas adalah judul karya yang mereka garap selama sepekan mengikuti workshop pembuatan film pendek. Dan ketiga film tersebut adalah hasil workshop film CLC (Cinema Lovers Community) untuk SMA yang digelar pada 6-12 April 2007 lalu.

tasmini.jpgTasmini yang dibesut sutradara perempuan, Evi A. Wahyuni ini berkisah tentang seorang suami yang kesehariannya bekerja sebagai kuli rangsang (panggul) di pasar. Pada suatu hari, kesalahpahaman terjadi. Sang istri sempat termakan omongan tetangga yang mengatakan si suami menyeleweng dengan perempuan bernama Tasmini. Tapi justru saat pulang dari bekerja, sang suami mempersembahkan istrinya sebuah tasmini.

boncengan.jpgBoncengan yang juga dibesut sutradara perempuan, Riza Saputri bercerita seputar kehidupan rumah tangga. Bapak, ibu, dan seorang anak perempuan yang masing-masing mempunyai persoalan namun berhubungan erat. Pada akhirnya orang harus sadar bahwa barang berharga adalah barang yang mempunyai nilai kegunaan dan manfaat.

Sementara film Lunas yang disutradarai Shuheto Hendry mengisahkan sebuah keluarga sederhana nan miskin yang kesulitan dalam membiayai pendidikan anak. Mendatangi tetangga-tetangga untuk meminjam uang pun tak didapat. Apalah kata, musibah menimpa salah satu dari keluarga itu. Namun perjuangan mereka tak sia-sia.

Sutradara film Lunas, Shuheto Hendry, mempunyai kesan bahwa ternyata membuat film itu tidak semudah yang ia kira. “Pemahaman kami saat menerima materi workshop ternyata berbeda dengan penerapannya,” tuturnya.

Namun, Shuheto dan teman-temannya merasa tidak kapok membuat film. “Kami jadi tahu, film yang kami tonton selama ini ternyata bikinnya rumit,” ungkap pelajar yang berjanji akan meneruskan dunia film saat kuliah nanti.

Hal senada diungkapkan Evi A. Wahyuni, Gadis manis yang sebentar lagi menginjak bangku kelas XI ini merasa pengalaman membuat film itu mengasikkan. “Kami mendapat pengalaman yang sangat berharga. Dan rasanya kami harus terus bikin film, mumpung masih muda,” jelasnya.

Pegiat CLC Heru C. Wibowo mengatakan, minat dan antusias pelajar SMA Negeri 2 Purbalingga sangat besar namun tidak direspon dengan baik oleh pihak sekolah. “Kami tidak tega melihat semangat mereka. Karena itu workshop tetap digelar, dengan resiko seluruh biaya dan peralatan dari CLC,” tuturnya.

Heru menambahkan workshop pembuatan film pendek ini merupakan salah satu program CLC untuk mencari bibit sekaligus regenerasi. “Kami terbuka pada sekolah mana saja atau perkumpulan apa saja di Purbalingga untuk menggelar workshop film,” ungkapnya.

Rencananya, film-film ini diputar perdana pada gelaran “Satu Tahun Kita Bersedih” untuk memperingati satu tahun pelarangan program Bioskop Kita dari CLC oleh Pemkab Purbalingga yang dikemas dalam bentuk Parade Film Purbalingga, berupa pemutaran seluruh karya film indie Purbalingga, pada 7 Juli 2007 mendatang.

Ketiga film perdana garapan para pelajar itu telah dikirimkan ke ajang Surabaya 13 Film Festival (S13FFest) dan Hellomotion Festival Jakarta. Dengan subtitle (teks) Inggris, film-film ini pun siap meluncur ke pasaran internasional, menyusul beberapa film yang dikompilasi CLC sebelumnya.

 
27 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 13, 2007 in BERITA TERBARU

 

di KEBUN BUAH

poster-depan.jpg

Tjlatjapan Poetry Forum, dalam upaya menggali pemikiran dari para penyair yang aktif berkarya bertempat di rumah penyair Badruddin Emce, Jalan Kendeng Nomor 39, Kroya, Cilacap, pada Jumat malam 1 Juni 2007, mulai pukul 20.00 WIB telah menggelar acara bertajuk Baca Puisi Putra Serayu dengan menghadirkan penyair Teguh Trianton (Purbalingga), Nanang Anna Noor (Ajibarang) dan Faisal Kamandobat (Majenang).

 

Dibuka oleh aktivis “Genesis” Majenang, Mas’udi, serta dihantar pembawa acara penyair Damar Nurani (Wanareja) acara pembacaan puisi menjadi mengalir. Tampil pertama Teguh Trianton, meski baru sembuh dari kecelakaan, mampu mendedahkan dengan baik karyanya seperti Narasi Ciuman, Kamandaka, Membenci Malam, Lalu Cinta adalah Luka, Ulang Tahun Hujan, dan beberapa lagi. Selanjutnya Nanang Anna Noor, seperti ingin menghibur, berhasil mengundang tawa sebagian besar undangan, saat dengan iringan gitar melagukan karyanya berjudul Mengunyah Hingga ke Langit-langit, Anakku, Makanlah Batu, 3 dan des des des. Terakhir Faisal Kamandobat yang menurut penyair Y. Jaka Cahyana karya-karyanya menyerupai dongeng nina-bobo, cenderung tampil dingin menekan namun dengan tempo yang terjaga.

( LIHAT PUISI-PUISI MEREKA  DI HALAMAN >>)

dialog.jpg

sunaryo.jpg jaka-baca-sms.jpg

Di samping membacakan karya yang terangkum dalam antologi khusus “Di Kebun Buah”, ketiga penyair tersebut juga memaparkan visi dan konsep kepenyairannya masing-masing. Dipandu moderator berpengalaman, teaterawan Ganjar Wisnu Murti diskusipun berlangsung hangat.

Dalam kesempatan tersebut sebelum acara diskusi berlangsung, sebagai penghormatan atas dedikasinya dalam pengembangan sastra di Cilacap, Tjlatjapan Poetry Forum juga mempersilakan penyair Sunaryo untuk membacakan karya-karyanya.

 

 

 

sudah-saatnya-buka-mata.jpgSecara keseluruhan acara dapat mengundang apresiasi dari para undangan yang sebagian besar pecinta sastra. Meskipun begitu acara tersebut kiranya akan terasa hambar jika tidak disertai tata panggung dan tata lampu. Dengan demikian keterlibatan Insan Indah Pribadi dan kawan-kawannya dari Sangkanparan, serta beberapa siswa SMA Negeri Maos sungguh memiliki peran tersendiri.

 

Tjlatjapan Poetry Forum adalah tempat bertemunya berbagai ide dan pemikiran bagi perkembangan puisi secara lebih luas

Alamat Surat Menyurat : Jalan Kendeng RT 11/RW 06, Nomor 39, Kroya, Cilacap, Kode Pos 53282
Nomor Telepon :
(0282) 492567 Email : badrpoem@yahoo.co.id

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 13, 2007 in Tak Berkategori