Lokalitas Isu Film Independen jadi ‘FENOMENA’

Juni 23, 2007

(oleh Teguh Trianton)

 

ttr2.jpgGeliat dunia perfilman independen (indie) lokal Purbalingga dari waktu ke waktu terus berkembang. Bak cendwan di musim penghujan, belsan rumah produksi tumbuh dan bertebaran. Tercatat sedikitnya sudah ada 17 production house (PH) atau rumah produksi film lokal lokal tergabung dalam wadah Cinema Lovers Community (CLC).
Saat persemaiannya pada tanggal 4 Maret 2006 lalu, CLC berdiri hanya dengan 4 rumah produksi sebagai anggota, masing-msing Laeli Leksono Film, Glovision Production, Beda Studio dan SBH Entertainment. Meski baru empat anggota, namun saat itu, CLC telah mampu ‘bebicara’ dengan memproduksi puluhan judul film indie. Dengan mengangkat isu-isu lokal menjadi tema film indie Purbalingga, mereka terus berkembang.
Dari empat anggota tersebut, hingga tahun 2007 ini perkembangan jumlah anggota CLC terus bertambah. Sejumlah PH baru bermunculan dan menyatakan bergabung dalam satu wadah CLC. Beberapa diantaranya yaitu, Bochary Film, UTDC Film, Multivita Min, BOZZ Community, Loekita Films, Pram Production, Les Bumi Toek Sinema, Kamuajo, dan FM Studio. Tentu saja, geliat ini menjadi sebuah fenomena tersendiri dlam perkembangan film indie di Purbalingga.
Apalagi, saat ini CLC mulai melakukan regenerasi dengan ‘menggarap’ sineas pelajar SMA untuk dibentuk menjadi sineas muda yang bekualitas. Hasilnya cukup fenomenal, dari SMA Negeri 1 Purbalingga kemudian lahir rumah produksi Tjap Gadjah, demikian juga dengan SMA Negeri Bobotsari. Yang lebih fenomenal lagi adalah lahirnya tiga rumah produksi sekaligus di SMA Negeri 2 Purbalingga. Brankers Production 3 Generation Of Brankers, dan Brangkas Film Production belum lama ini telah menyelesaikan tiga film indie yang mengangkat isu atau tema lokal.
Lokalitas isu inilah yang kemudian menarik untuk diangkat dalam sebuah acara liputan khusus bertajuk ‘Fenomena’ oleh sebuah stasiun televisi swasta. Senin (18/06) kemarin, sejumlah awak Trans TV yang tergabung dalam tim liputan Fenomena mengunjungi markas sineas muda Purbalingga, untuk melakukan wawancara. Bukan hanya itu, tim Fenomena juga berkesempatan melihat langsung proses pengambilan gambar dalam sebuah proses produksi film indie di SMA Negeri 2 Purbalingga.
Pegiat CLC Heru C. Wibowo yang mendampingi Tim Fenomena, mengungkapkan bahwa, banyaknya Festival Film yang telah diikuti baik di dalam dan luar negeri dan berbagai prestasi yang telah diraih, menjadikan dunai film indie Purbalingga sebagai sorotan, setidaknya bagi Tim Fenomena.
Dua anggota Tim Fenomena, yaitu Novari M (reporter) dan Wibowo Saputro, (produser) menilai bahwa film-film yang dihasilkan dari Kota Purbalingga ini memliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Dalam penilaian mereka, ditengah kecenderungan tontonan film yang mengumbar modernitas, Purbalingga justru menyuguhkan film yang kental dengan nuansa lokal.
Keberanian mengangkat kultur daerah sendiri, termasuk budaya banyumasan inilah, yang menurut keduanya menjadi kunci keberhasilan film purbalingga meraih predikat juara dan penghargaan diberbagai festival yang pernah diikuti.
Pengambilan gambar ‘Fenomena’ sendiri, dimulai dari SMA N 1 Purbalingga, dengan mewancarai dua sutradara muda asal sekolah tersebut, Di SMA N 1, selain mewawancarai dua sineas perempuan yaitu Niken Sarasvati Devi dan Atik Rindarsih, mereka juga menyaksikan langsung proses pembuatan film. Saat itu, Tjap Gadjah production, tengah melakukan shooting penggarapan film kedua yang berjudul “Jam Kosong.” Liputan berahir di SMA Negei 2 Purbalingga


BP2N RESMI Batalkan Kemenangan EKSKUL dan NAYATO di FFI 2006

Juni 23, 2007

Prima Rusdi

Kamis, 21 Juni 2007, Presidium gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI), telah menerima kepastian mengenai dibatalkannya kemenangan EKSKUL dan Nayato yang terpilih sebagai film terbaik dan sutradara terbaik di ajang FFI 2006 lalu. Adapun Surat Keputusan bernomor 06/KEP/BP2N/2007, tentang Pembatalan Piala Citra Utama untuk Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2006 tersebut ditanda-tangani oleh ketua BP2N, Deddy Mizwar.

Beberapa pertimbangan yang mendasari keputusan tersebut antara lain karena adanya sejumlah polemik dipicu oleh tuduhan pelanggaran Hak Cipta atas penggunaan musik di dalam film tersebut, dan setelah mengkaji ulang dan komprehensif soal pelanggaran hak cipta tersebut, BP2N menganggap perlu mengambil tindakan terhadap EKSKUL dan Nayato. Dengan diputuskannya pembatalan tersebut, BP2N juga menetapkan untuk MENIADAKAN pemenang Piala Citra Utama untuk kategori Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia Tahun 2006. SK ini ditetapkan pada tanggal 15 Juni 2007.

Kontroversi soal EKSKUL telah berlangsung sejak awal berakhirnya ajang FFI tahun 2006 lalu. Protes terhadap pelanggaran yang telah dilakukan oleh film ini, menjadi salah satu hal pokok dari tuntutan yang diajukan oleh gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dicetuskan pada tanggal 3 Januari 2007 lalu. Gerakan ini merupakan gerakan moral yang terdiri dari pekerja film aktif juga beragam unsur masyarakat yang punya kepedulian terhadap perfilman nasional. MFI bertujuan untuk mendorong terciptanya sejumlah perbaikan struktural dalam perfilman Indonesia, diantaranya menyangkut masalah sistim kelembagaan film Indonesia, dan UU film no. 8 tahun 92 yang sudah tidak kondusif dengan keadaan saat ini.

Meski dalam Pernyataan Bersama MFI juga disebutkan adanya permintaan gerakan ini agar pembatalan kemenangan EKSKUL disertai juga dengan pertanggung-jawaban terbuka dari penyelenggara FFI serta ditiadakannya FFI untuk sementara, belum ada kejelasan dari BP2N mengenai hal tersebut.

MFI sendiri sejak awal telah sepakat untuk meneruskan gerakan ini dengan terus bekerja secara sistimatis, dan bahwa pembatalan soal EKSKUL ini bukanlah pertanda akan berakhirnya gerakan ini.

(data diambil dari –> masyarakatfilmindonesia.wordpress.com)


MARI BERMAIN DOKUMENTER

Juni 21, 2007

hardok-4-pwt.jpgFilm pendek bukanlah film kelas dua yang hanya dipandang sebelah mata. Sebuah stasiun televisi di Australia sudah menayangkan film-film berdurasi satu menit. Jika film panjang mengandalkan alur cerita, maka film pendek menumpukan kekuatan yang utama pada ide.

Nah, ide inilah yang kerapakali menjadi titik kelemahan sineas tanah air. Fenomena itu rupanya ditangkap dengan baik oleh Programer Arisan Film Forum (AFF), Bayu Kesawa Jati. Dengan menggandeng Kafe Bintang di Jalan Adyaksa No. 2 Purwokerto, digelarlah acara pemutaran dan diskusi film Hari Dokumenter (Hardok) #4 bertajuk “Mari Bermain Dokumenter!” pada Sabtu malam (9/6) lalu.

“Saya ingin menunjukkan betapa sejumlah sineas menemukan ide dengan semangat bermain-main, seperti anak-anak. Konsepsi main-main para sineas ini dikolaborasikan dengan kenakalan visual,” tuturnya.

insan2.jpgLihatlah film Anak Pejabat yang dibesut oleh Insan Indah Pribadi dari Sangkanparan, Cilacap. Film ini merekam bagaimana putra-putri para pejabat sebuah perusahaan besar di Cilacap bermain-main di tengah acara pengajian.
Sementara di podium seorang kyai sedang menyampaikan dakwah, di bawah podium seorang anak perempuan dan laki bermain smackdown. Anak-anak yang lain menabuh alat musik yang tergeletak di pojokan ruang dan sebagian sisanya bermain petak-umpet dengan riangnya.

Insan mengaku terkesima melihat pemandangan itu. “Saya tidak menyalahkan anak-anak yang berlaku demikian. Saya hanya bertanya-tanya, seperti apa mereka dididik orang tuanya. Karena pemandangan itu lucu dan terasa kontras, saya tangkap saja peristiwa itu menjadi film,” imbuhnya.

Isu Keperawanan
heru2.jpgSutradara Heru C. Wibowo dari UTDC Film Purbalingga juga membagikan proses letikan ide pembuatan film Mahkotaku 50:50. Menangkap pertanyaan seorang karibnya mengenai keperawanan, Heru mencari jawab dengan menanyakannya pada para pelajar.

Film sepanjang lima menit itu merekam jawaban para pelajar SMA dan SMP dari Purbalingga, Cilacap, Purwokerto dan Banjarnegara. Dengan apa adanya, Heru menampilkan silang pendapat dari para pelajar. Sebagian menganggap keperawanan dan keperjakaan penting, sementara yang lain tidak.

Gaya spontan menanggapi pertanyaan tak biasa itu kerap menghadirkan momen yang lucu. “Saya mencari jawaban atas pertanyaan usil itu dengan membuat film ini, sekaligus juga menyampaikan opini saya tentang isu kerjakaan dan keperawanan di tengah kaum muda saat ini,” jelasnya.

Film Adu Jago yang beberapa waktu lalu menggondol predikat sebagai Film Dokumenter Terbaik pada Malang Film-Video Festival (Mafvie Fest) 2007, semakin menambah gayeng para penonton malam itu.

Bowo Leksono, sang sutradara, memotret proses pemilihan kepala desa di Purbalingga dengan kenakalan visual. Bowo mencegat beberapa orang pemilih yang datang dari jauh untuk menanyakan motif mereka memberikan suara. Penonton tertawa mendapati banyak jawaban polos nan lugu, apalagi Bowo memakai bahasa ngapak-ngapak yang menjadi khas Banyumas.

Selain itu, film Lelaki Pesolek karya sutradara Niken Devi dan Atik Rindarsih dari Tjapgadjah Production (SMAN 1 Purbalingga) juga turut diputar. Sayangnya, kedua sineas perempuan ini tak bisa hadir untuk berbincang hangat dan membagi pengalaman dengan publik penonton malam itu. Bayu sempat membocorkan pesan singkat yang diterima dari salah satu sutradara. “Niken sebenarnya ingin sekali datang untuk presentasi dan diskusi di sini, tapi ndak boleh keluar malam sama ibunya,” katanya sembari tertawa.*

(ditulis oleh Sihar-Suara Merdeka. Kamis, 14 Juni 2007)