29 MEI HARI UNTUK MANULA

Mei 30, 2007

Taukah kalian semua. bahwa 29 Mei 2007 adalah Hari Lanjut Usia Nasional atau yang disingkat HALUN.

Informasi ini disampaikan oleh teman yang juga tokoh penyair yang masih bujang, yang saat ini tergolong sebagai anggota keluarga Lanjut Usia di Panti Wredha- Cilacap. Beliau adalah SUNARYO. Yang memilih sepeda onthel sebagai kendaraan pribadinya ketika ia ingin berpergian kesebuah tempat.

Waktunya dihabiskan dengan membaca dan menulis. Banyak artikelnya yang dimuat dibeberapa surat kabar. Biarpun dianggap sudah Lanjut Usia, namun semangatnya untuk menyaksikan pertumbuhan remaja masa kini, patut diacungi jempol. Karena tak sedikit para pemuda, seniman dan juga tokoh lainnya menimba ilmu dan mendapatkan komentar darinya. Sungguh sebuah dukungan yang sangat kuat.

OLEH SEBAB ITU, marilah kita contoh semangatnya untuk dapat ditanamkan dalam sanubari setiap insan yang ingin tetap bertahan hidup di Negeri yang semakin sulit ini

( in)


TASYA nonton FILM LOKAL

Mei 30, 2007

TASYA, INGIN JADI SUTRADARA FILM INDIE 

foto-tasya-boleks.jpgPenyanyi cilik Tasya, yang saat ini mulai menginjak remaja, memang belum pernah berperan di film layar lebar. Namun aktingnya cukup terasah di beberapa sinetron yang sempat dibintanginya. 

Ketika kontributor Blog Sangkanparan menemui artis yang sebentar lagi duduk di bangku SMA, ia sedang sibuk pengambilan gambar FTV (film televisi) bertajuk Bodyguard Cinta untuk tayangan sebuah stasiun televisi swasta di Taman Bunga Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (29/5). Di sela-sela break shooting, Tasya bertutur tentang film independen. Menurutnya, film indie itu sangat bagus karena dibuat oleh anak-anak muda yang kreatif. “Dari sisi cerita sangat menarik dan kecenderungannya tidak banyak efek jadi lebih kelihatan alami,” ujar presenter, bintang iklan, dan pemain sinetron yang mempunyai nama lengkap Syafa Tasya Kamil. Gadis remaja kelahiran Jakarta, 22 November 1992 ini sempat menonton film karya Dennis Adhiswara yang bertajuk “Kwaliteit 2”. “Filmnya menarik dan sangat kocak,” katanya. Ternyata sudah lama Tasya memendam keinginan terlibat di produksi film independen. “Aku ingin jadi sutradara atau paling tidak script writer untuk cerita komedi biar lebih fun,” ungkap pembawa acara Pildacil (pemilihan da’i cilik) di salah satu stasiun televisi swasta ini. Tasya mengakui belum banyak tahu tentang perkembangan film independen di Indonesia. Apalagi merebaknya film pendek yang dibuat anak-anak muda di daerah dengan local culture yang sangat kuat. Tasya pun berbinar, saat menerima sebuah kepingan vcd berisi kompilasi film dari Purbalingga. “Makasih banget ya Mas. Nanti aku tonton dan tunggu aja komen-nya,” pungkas gadis remaja dengan gayanya yang tetap menggemaskan. bolex


Menulis Skenario dengan CINTA

Mei 30, 2007

gabungan.jpglihat foto ? klik aja

Suatu ketika saya bertanya pada Musfar Yasin (penulis skenario film “Nagabonar Jadi 2” dan “Kiamat Sudah Dekat”. Bagaimana Anda menulis skenario dahsyat yang mampu menyapa jiwa penonton?Bung Musfar pun menjawab; “Terpenting dalam menulis skenario adalah mengerjakannya terus-menerus karena kecintaan. Barulah bekal-bekal lain berupa kepekaan melihat sekeliling yang biasanya terlewat dari perhatian orang lain. Wawasan, akan membuat karya kita jadi kaya, orisinal, nggak latah mengulang-ulang yang sudah ada”.Tepat! Saya sepakat dengan jawabannya. Mustahil suatu pekerjaan atau hobi apapun akan berhasil bila tak didasari rasa suka yang mendalam. Dan belajar secara kontinyu itulah yang akan semakin mengasah kemampuan kita. Ditambah banyak referensi dengan cara membaca, melihat, mendengar, dan merasakan.Satu hal yang tak boleh ketinggalan. Bakat! Ya, bakat adalah bagian yang penting. Meski demikian, bakat saja tidaklah cukup, harus ada proses belajar yang terus-menerus agar kita bisa trampil menerapkan teknik dalam penulisan skenario.Bagaimana skenario film yang baik? Seorang penulis skenario film harus memperhatikan penulisan secara filmis, artinya harus memperhatikan cara penuturannya karena film adalah bahasa gambar dan suara. Penulisan secara filmis bertujuan untuk penyajian gambar dinamis dan suara yang merangsang.Menurut penulis skenario kawakan Misbach Yusa Biran, skenario yang baik bila jalan ceritanya dapat dipahami dengan jernih, kreatif dalam menggunakan bahasa film, bagus tangga dramatiknya, dan mudah disimpulkan isi cerita yang dikandungnya. Penulis yang telah memasuki usia 73 tahun ini berhasil menciptakan puluhan skenario berkualitas antara lain skenario film “Fatahillah” dan sinetron “Jalan Lain ke Sana”.Untuk menciptakan sebuah skenario film, pertama tentu berangkat dari ide, entah untuk film fiksi, dokumenter, maupun jenis film lainnya. Ada pula skenario yang berangkat dari cerpen, novel, bahkan puisi. Sang penulis, agar hasilnya bagus, mengetik naskah seraya membayangkan adegan-adegannya. Seolah merasakan sendiri.Seorang penulis skenario profesional kerap mengajak orang lain yang paham, terutama orang yang hendak bekerjasama dalam pembuatan sebuah film, untuk membicarakan dan mendiskusikan karya sebuah skenario.Skenario film, sinetron maupun drama/teater pada prinsipnya sama. Perbedaan terletak pada masalah teknis saja. Dalam sinetron ada jeda untuk break. Jeda inilah yang perlu diperhatikan. Potongan cerita harus dibuat “nggantung” agar penonton penasaran. Skenario film dan sinetron, terbatasi teknis potongan adegan, terbatasi waktu dan ruang. Ini berbeda dengan skenario drama/teater yang lebih cair dan fleksibel.

Sementara untuk skenario film pendek, karena berdurasi maksimal 30 menit, mengandung unsur; satu napas, satu emosi, satu tekanan, atau satu masalah yang dimunculkan. Selamat mencoba !!!

(* adalah sutradara dan penulis skenario film pendek)

materi ini disampaikan pada “workshop film pendek” SMA Negeri 2 Purbalingga 6-8 April 2007 Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga